Polusi Debu Diduga Pengaruhi Kesehatan Warga Kutim

KUTAI TIMUR, Netizens. Id – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) menyoroti dampak lingkungan terhadap kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang berdekatan dengan aktivitas pertambangan. Polusi debu disebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di beberapa kawasan.
Plt. Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, mengungkapkan bahwa beberapa daerah dengan aktivitas industri tinggi memiliki tingkat ISPA yang lebih banyak dibanding wilayah lain.
“Kalau dilihat dari data, kasus ISPA cukup banyak di daerah sekitar tambang. Secara logika, itu memang pengaruh debu,” jelasnya.(09/11/2025)
Menurutnya, partikel debu yang berlebihan di udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinkes karena berkaitan langsung dengan kualitas udara dan lingkungan hidup.
“Debu dari aktivitas tambang itu sangat halus. Kalau terus terhirup, lama-lama bisa memicu ISPA bahkan penyakit paru kronis,” terangnya.
Sumarno menambahkan, setiap perusahaan tambang sebenarnya sudah memiliki alat pengukur kadar debu di sekitar area operasionalnya. “Setiap perusahaan diwajibkan punya indikator pengukur debu, termasuk pelaporan hasil pengukuran secara berkala,” katanya.
Namun, berdasarkan hasil pantauan, beberapa kawasan masih menunjukkan angka ambang batas polusi yang cukup tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Dari hasil pemantauan kita, di beberapa titik kadarnya masih tinggi. Ini artinya perlu langkah pengendalian lebih serius,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa meskipun belum ada hasil laboratorium yang secara pasti menyebutkan penyebab ISPA berasal dari debu tambang, secara logika hubungan keduanya sangat kuat.
“Secara medis belum bisa ditetapkan langsung, tapi kalau dilihat dari kondisi lapangan, memang besar kemungkinan dari debu,” tambah Sumarno.
Dinkes Kutim kini tengah mendorong adanya kerja sama lintas sektor, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk memperkuat pemantauan kualitas udara. Pemantauan dilakukan agar masyarakat bisa lebih terlindungi dari dampak lingkungan.
“Kami ingin masyarakat mendapatkan udara yang bersih. Kesehatan lingkungan itu sama pentingnya dengan kesehatan tubuh,” tegasnya.
Ia berharap perusahaan tambang juga aktif berperan dalam menjaga lingkungan sekitar agar aktivitas industri tidak menimbulkan dampak kesehatan bagi warga.
“Perusahaan harus ikut bertanggung jawab menjaga udara tetap bersih. Ini bagian dari komitmen bersama,” tutup Sumarno.(Adv/Kominfo)







