Asah Nalar Kritis, 74 Pelajar Samarinda Ikuti Pelatihan Menulis Esai “Pena Pemimpin Muda”

SAMARINDA – Sebanyak 74 pelajar jenjang SMA, SMK, dan MA se-Kota Samarinda mengikuti Pelatihan dan Praktik Menulis Esai bertema “Pena Pemimpin Muda: Belajar dari Pahlawan Indonesia” yang digelar di Aula Perpustakaan Kota Samarinda, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Rumah Literasi Pelita dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI), Jaringan Penulis Indonesia (Jalanin) Kota Samarinda, serta Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kota Samarinda.
Acara dibuka resmi oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Asep Juanda, S.Ag., M.Hum. Pelatihan ini digagas untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis sekaligus jiwa kepemimpinan generasi muda dengan meneladani para pahlawan Indonesia. Para peserta diajak memahami bahwa perjuangan membangun bangsa tak melulu soal fisik, tapi juga bisa lewat gagasan dan tulisan.
Ketua Rumah Literasi Pelita, Irma, turut memberi semangat kepada peserta agar terus mengasah kemampuan menulis. Ia menegaskan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan cara untuk memengaruhi pola pikir dan mendorong perubahan. “Teruslah menempa diri dalam menulis. Karena kita dapat mengubah dunia dengan menulis,” ujarnya.
Sesi Pemantik dan Praktik Bersama Tokoh Sastra
Pada sesi materi, hadir sebagai pemantik Drs. H. Syafruddin Pernyata, M.Hum. — sastrawan sekaligus tokoh literasi Kaltim dan Ketua GPMB Kaltim — yang akrab disapa SP, dengan moderator Inmas Devi Merdekawati, SH, MH. Ia memaparkan bagaimana kata dan gagasan turut mengambil peran penting dalam sejarah perjuangan para pahlawan bangsa, tanpa harus selalu mengandalkan kekuatan fisik.
Sesi berikutnya, pelatihan teknis dan praktik menulis esai, dipandu oleh Endry Sulistyo dan Nurhikmah. Peserta dibekali secara menyeluruh, mulai dari menemukan ide, menyusun argumentasi, hingga menuangkannya menjadi esai yang menarik. Lewat praktik langsung ini, siswa dilatih agar berani menyampaikan pandangan mereka terhadap berbagai persoalan bangsa.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyiapkan penghargaan dan ruang publikasi karya. Sebanyak 30 esai terbaik akan dibukukan sebagai dokumentasi resmi Kemendikdasmen RI, sementara lima peserta terbaik berkesempatan mempublikasikan tulisannya melalui laman resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur.
Seluruh peserta juga akan mendapat pendampingan kepenulisan berkelanjutan melalui Komunitas Penulis Muda Samarinda di bawah binaan Jalanin Kota Samarinda.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan tak sekadar menjadi seremoni sehari, melainkan titik awal membangun budaya literasi berkelanjutan di kalangan generasi muda Samarinda. Apalagi di tengah momentum menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan ini menegaskan bahwa harapan selalu tumbuh dari anak muda yang mau membaca, berpikir, menulis, dan mengambil peran bagi masa depan Indonesia. (inmas devi)







