Kontrak Pembangunan Pelabuhan Kenyamukan Diteken September, Anggaran Capai Rp144 Miliar
KUTAI TIMUR – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan proses tanda tangan kontrak pembangunan fasilitas pokok dan penunjang Pelabuhan Kenyamukan akan dilaksanakan pada minggu kedua September 2026. Proyek yang masuk dalam skema anggaran multi-years (MY) 2026–2027 ini menelan pagu anggaran total Rp144 miliar.
Sekretaris Dishub Kutim, Masrianto Suriansyah, mengatakan saat ini proses Pengadaan Barang Dan Jasa (PBJ) masih berjalan sebelum kontrak resmi diteken. Setelah kontrak diteken, terangnya, sisa waktu pada tahun anggaran 2026 yakni Oktober dan November akan dimaksimalkan untuk pengerjaan fisik. Pembangunan tahun ini difokuskan pada sekitar 12 hingga 13 unit bangunan pelayanan pokok dan penunjang, di antaranya kantor syahbandar, pergudangan, tangki Bahan Bakar Minyak (BBM), serta terminal penumpang.
“Kita menunggu hasil yang akan diproses dari PBJ, baru kita bisa tanda tangan kontrak. Untuk estimasinya seharusnya minggu kedua September ini kami sudah harus bertanda tangan,” ujarnya.
Pelabuhan Kenyamukan, imbuhnya, merupakan salah satu dari 50 program prioritas yang menjadi turunan visi-misi Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur. Proyek ini ditargetkan sudah bisa beroperasi pada awal 2028, dan Dishub Kutim disebut telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan terkait persiapan rute pelayaran perdana.
Dari sisi lahan, luas area sisi darat yang tersedia untuk pelabuhan saat ini sekitar 5 koma sekian hektare, hasil reklamasi bertahap yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Pelabuhan ini direncanakan berfungsi ganda, yakni melayani bongkar muat kargo sekaligus penumpang, dengan status pelabuhan tipe pengumpul.
Untuk rute perdana pada awal 2028, Dishub menyiapkan opsi membuka jalur pelayaran dari Bontang jika mendapat izin dari otoritas terkait. Namun secara mandiri, Pemkab Kutim juga berupaya membuka jalur pelayaran perintis dengan rute Sangatta–Donggala–Maloy ke depannya. Jalur perintis ini berpeluang mendapat subsidi 50 persen dari pemerintah pusat, serupa dengan skema subsidi penerbangan perintis di Bandara Uyang Lahai.
“Dengan beroperasinya Pelabuhan Kenyamukan, harga barang yang selama ini harus melalui jalur darat dari Pelabuhan Balikpapan berpotensi turun hingga 50 persen, karena jarak tempuh distribusi barang ke Sangatta dan sekitarnya, termasuk Bontang, akan jauh lebih pendek,” tegasnya.(Adv-kominfo/Q)







