AdvertorialKominfo

Empat Suku Hidup Berdampingan di Desa Mulupan, Tradisi Keagamaan Jadi Perekat

KUTAI TIMUR – Desa Mulupan, Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, dihuni oleh masyarakat dari empat suku berbeda yang hidup berdampingan, yakni suku Kutai, Jawa, Bugis, dan Banjar. Kondisi keberagaman ini menjadi perekat antar warga Desa Mulupan.

Kepala Desa Mulupan, Riansyah, dalam konfirmasi yang dilakukan menyampaikan bahwa mayoritas warga di desa yang dipimpinnya memeluk agama Islam, tercatat sebanyak 1.035 orang dari total populasi desa.

Ia juga menyebutkan sejumlah tradisi keagamaan yang secara rutin dilaksanakan secara serentak oleh sebagian besar masyarakat Desa Mulupan, di antaranya Tadarus Al-Quran, Yasinan, Burdah, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi-tradisi ini disebut menjadi salah satu perekat sosial di tengah keberagaman suku yang ada di desa tersebut.

Untuk menunjang aktivitas keagamaan warga, ia menyebutkan ketersediaan sarana ibadah berupa masjid dan musala, yang menjadi bagian dari fasilitas umum desa bersama Kantor Desa, Kantor Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Balai Pertemuan Umum, Sekolah Dasar Negeri (SDN), TK-TPA, SLTP, dermaga, Puskesmas Pembantu (Pusban), perpustakaan, titian ulin, dan tribun.

Dari sisi kelembagaan sosial, ia menyebutkan sejumlah potensi berdasarkan bagan kelembagaan yang dimiliki desa, meliputi Lembaga Adat, aparat BPD, aparat RT, anggota Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), anggota Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), kader Posyandu, bidan desa, anggota perlindungan masyarakat (Linmas), pengurus Karang Taruna, pengurus dan anggota Rukun Kematian, serta anggota kelompok tani dan nelayan.

“Keberagaman suku dan kekuatan tradisi keagamaan ini menjadi salah satu modal sosial yang dimiliki Desa Mulupan, di tengah sejumlah tantangan pembangunan infrastruktur dan ekonomi,” katanya.

Selain itu ia juga menyampaikan bahwa Desa Mulupan, sebagai satu dari tujuh desa di Kecamatan Muara Bengkal dengan luas wilayah sekitar 43,50 kilometer persegi, berbatasan dengan Desa Senambah di utara, Desa Sedulang di selatan, Desa Menamang di barat, serta kawasan Cagar Alam di sisi timur akan terus berbenah. Wilayah desa yang didominasi dataran rendah dan rawa serta terbagi dalam tujuh RT ini akan terus didorong untuk berkembang dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki.

“Kami terus mendorong perkembangan desa, peningkatan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat agar lebih meningkat,” katanya. (Adv-kominfo/Ad)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button