Sektor Pertanian dan Perkebunan Jadi Andalan Ekonomi Benua Baru
KUTAI TIMUR – Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan menjadi kontributor utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Desa Benua Baru, Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur. Hal ini tercantum dalam dokumen Profil Desa Benua Baru Tahun 2025 yang disusun pemerintah desa.
Kepala Desa Benua Baru, Ahmad Benni, S.Sos, menyampaikan bahwa desa yang dipimpinnya mempunyai wilayah dengan luas total 16.366 hektare, di mana sebagian besar lahan digunakan untuk tanah tegalan/ladang seluas 1.195,75 hektare, perkebunan swasta 2.838 hektare, dan perkebunan rakyat 1.415,89 hektare.
Di sektor pertanian, tercatat sembilan kelompok tani peladang dan sawah dengan total 236 anggota mengelola lahan seluas 442,50 hektare, dengan komoditas unggulan padi dan jagung. Sementara di sektor perikanan, tiga kelompok nelayan beranggotakan 51 orang mengelola areal tangkapan seluas 93 hektare menggunakan peralatan tradisional seperti jaring, pancing, jala, dan bubu.
“Untuk peternakan, enam kelompok peternak sapi dengan 147 anggota mengelola lahan seluas 219 hektare, dengan model penggemukan dan pengembangan induk. Selain itu, warga juga mengembangkan peternakan kambing, ayam kampung, ayam ras, serta bebek/itik secara mandiri di tingkat rumah tangga,” terangnya.
Perkebunan sawit, lanjutnya, menjadi salah satu sektor dengan skala terbesar, dikelola sembilan kelompok pekebun plasma beranggotakan 324 orang di lahan seluas 648,89 hektare, bermitra dengan perusahaan dan dikelola bersama Koperasi serta BUMDes. Sementara itu, perkebunan karet dikelola tujuh kelompok dengan 451 anggota di lahan seluas 767 hektare, dengan hasil panen dijual secara individu kepada pengepul.
Desa Benua Baru menurutnya masih mempunyai potensi tambahan berupa perkebunan buah-buahan, rotan, dan pohon aren yang masih dikelola secara perorangan, serta potensi industri rumahan seperti tempe, tahu, dan kerajinan anyaman. Meski demikian, ia mengakui bahwa sumber daya alam desa seperti danau, rawa-rawa, dan hutan produksi seluas 10.124 hektare masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan membuka ruang pengembangan lebih lanjut bagi perekonomian desa ke depan.
“Nah ini yang akan kami maksimalkan potensinya ke depan, karena masih banyak yang belum maksimal dikembangkan,” tutupnya. (Adv-kominfo/Ad)







