AdvertorialKominfo

Belasan Seni Budaya Tradisional Benua Baru Terancam Punah

KUTAI TIMUR – Sedikitnya 12 jenis seni budaya tradisional yang pernah berkembang di Desa Benua Baru, Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, kini semakin jarang dijumpai di tengah masyarakat. Kondisi ini tercatat dalam dokumen Profil Desa Benua Baru Tahun 2025 yang disusun pemerintah desa setempat.

Kepala Desa Benua Baru, Ahmad Benni, S.Sos saat dikonfirmasi terkait data tersebut menyampaikan bahwa wilayah yang dipimpinnya tersebut penduduknya mayoritas merupakan Suku Kutai keturunan Ras Melayu beragama Islam, dengan bahasa asli Kutai Rumpun Puak Pantun yang kini digantikan bahasa Indonesia dalam kegiatan resmi.

“Sejumlah seni budaya yang tercatat antara lain Tersulan, seni sastra syair yang dibawakan berlagu pada upacara perkawinan, khitanan, dan khatam Al-Qur’an; Betingkilan, musik menggunakan gambus, gendang, dan biola; Tari Jepen; serta Hadrah, kesenian musik Ter atau rebana yang biasa mengiringi arak pengantin dan perayaan hari besar Islam,” tuturnya.

Selain itu, terang Benni, terdapat pula Mamanda, drama tradisional bertema kisah para raja; tradisi Membuat Emping sebagai perayaan sebelum panen padi; Kenjong atau Belian, ritual pengobatan tradisional; Tari Ganjur dan Tari Gantar; tradisi Buang Selimpat berupa arung sesajen ke sungai; seni bela diri Kuntau; serta arsitektur Rumah Adat/Rumah Panggung dengan konsep ruang terbuka tanpa sekat atau dikenal sebagai rumah “Los”.

Ia tidak menampik bahwa seni budaya tersebut kini tergerus pengaruh perkembangan zaman dan menjadi tantangan bagi lembaga adat, penggiat seni budaya, serta tokoh masyarakat untuk menghidupkan kembali warisan leluhur tersebut. Namun ia juga tidak tinggal diam, menurutnya sebagai langkah pelestarian, dokumen mencantumkan sejumlah upaya yang direkomendasikan, di antaranya mempelajari dan mempraktikkan seni budaya dalam kehidupan sehari-hari, berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian, mengajarkan kepada generasi penerus, serta menghilangkan rasa gengsi terhadap budaya sendiri.

“Upaya pelestarian budaya ini turut menjadi salah satu dari lima misi utama RPJMDes Desa Benua Baru 2023–2030,” tutupnya. (Adv-kominfo/Ad)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button