Ekonomi Kutim Tumbuh 9,82 Persen, Transformasi Non-Tambang Jadi Tantangan

KUTAI TIMUR – Perekonomian Kabupaten Kutai Timur mencatat pertumbuhan 9,82 persen pada 2024. Pemerintah daerah kemudian menargetkan pertumbuhan ekonomi kembali meningkat pada 2026, sekaligus mendorong perubahan struktur ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada sektor pertambangan.
Sekretaris Bappeda Kutai Timur, M. Syaiful, menjelaskan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator penting pembangunan, tetapi kualitas pertumbuhan dan struktur ekonomi juga menjadi perhatian. Dalam RKPD 2026, pertumbuhan ekonomi 2024 tercatat 9,82 persen. Dokumen tersebut menyebut pertumbuhan tinggi itu antara lain dapat berkaitan dengan investasi besar, aktivitas pertambangan, pembangunan infrastruktur maupun ekspansi sektor unggulan.

“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 10,24 hingga 10,38 persen. Pada saat yang sama, pemerintah menetapkan target proporsi PDRB sektor non-tambang sebesar 25,66 persen pada 2026. Baseline 2024 tercatat 24,47 persen. Target tersebut menunjukkan agenda pembangunan tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga mendorong diversifikasi ekonomi,” terangnya.
Syaiful menjelaskan transformasi ekonomi menjadi salah satu isu strategis Kutai Timur. Struktur ekonomi daerah masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap sektor pertambangan sehingga pemerintah mendorong penguatan pertanian, perkebunan, kehutanan, pariwisata, peternakan, perikanan dan industri pengolahan.
Kontribusi industri pengolahan ditargetkan meningkat menjadi 5,06 persen pada 2026. Pemerintah juga memasukkan hilirisasi sejumlah komoditas sebagai program unggulan. Di antaranya pembangunan industri pengolahan pisang, nanas, cokelat atau kakao dan karet, serta pembangunan pabrik-pabrik hilirisasi sawit.
Pembangunan infrastruktur juga ditempatkan sebagai pendukung transformasi ekonomi. Percepatan operasional Pelabuhan Kenyamukan, Pelabuhan KEK Maloy dan pembangunan Bandara Sangatta masuk dalam program unggulan daerah. Pemerintah juga menargetkan PDRB per kapita meningkat dari Rp344,49 juta pada baseline 2024 menjadi Rp389,99 juta pada 2026.
“Pertumbuhan ekonomi perlu disertai peningkatan kualitas SDM, infrastruktur dan investasi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. RKPD 2026 kemudian menjadikan penguatan fondasi transformasi pembangunan sebagai fokus utama, dengan penekanan pada kualitas manusia, infrastruktur, dan dukungan investasi,” jelas Syaiful. (Adv-kominfo/Ad)







