Peristiwa Daerah

Menag Pimpin Salat Subuh di Masjid IKN

NUSANTARA, Netizens.id — Di bawah rintik gerimis yang membasahi pelataran Masjid Negara IKN, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, hadir di tengah ratusan jemaah untuk memimpin salat Subuh berjamaah pada Minggu (11/1/2026). Kehadiran Menag ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja untuk memastikan kesiapan fasilitas keagamaan di Ibu Kota Nusantara.

Mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan jas abu-abu dan sarung merah delima, Nasaruddin Umar melangkah menuju mihrab. Suasana fajar di jantung Nusantara seketika berubah syahdu saat ia melantunkan ayat suci Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 96-105 dengan suara yang menggema tenang, membelah keheningan udara dingin IKN.

Penampakan Desain Masjid Negara di IKN Dilihat dari Udara.(Foto: dok Kementerian PUPR)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam kajian subuh usai zikir bersama, Menag menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga dan pekerja di IKN yang tetap memadati masjid meski cuaca kurang bersahabat. Bagi Menag, semangat tersebut adalah cermin dari fondasi sesungguhnya dari ibu kota baru.

Menag di hadapan jemaah yang duduk bersila menyatakan, “Hujan gerimis dan udara dingin pagi ini adalah ujian kecil, namun Bapak dan Ibu membuktikan bahwa cinta kepada Allah melampaui kenyamanan fisik. Semangat ini adalah modal utama kita membangun IKN; bukan hanya fisiknya yang megah, tapi juga spiritualitasnya.”

Menag menekankan bahwa keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur beton dan teknologi, tetapi dari kualitas hati dan ketundukan manusianya kepada Sang Pencipta.

Dalam tausiyahnya, tokoh yang dikenal sebagai pakar tafsir ini memberikan peringatan keras mengenai penyakit hati, khususnya kesombongan. Ia merujuk pada sejarah jatuhnya Iblis yang diusir dari surga bukan karena kurangnya ibadah, melainkan karena keangkuhan.

Ia menjelaskan, “Sombong adalah perbuatan setan. Iblis terusir bukan karena tidak beribadah, melainkan karena keangkuhannya yang merasa derajatnya lebih tinggi hingga enggan bersujud kepada Nabi Adam AS.”

Ia mengajak jemaah untuk senantiasa mengedepankan sikap tawadhu (rendah hati) di tengah dinamika pembangunan IKN yang masif.

Lebih lanjut, Menag mengisahkan refleksi pengendalian hawa nafsu melalui peristiwa Nabi Adam AS dan Hawa yang terpedaya buah Khuldi.

Menag menambahkan, “Di dunia ini, tantangan kita jauh lebih besar. Jangan biarkan diri kita termakan oleh bujuk rayu yang tampak indah namun menjauhkan kita dari rida Allah.”

MENGENAL MASJID NEGARA IKN

Masjid Negara IKN, yang menjadi lokasi kegiatan ini, merupakan salah satu infrastruktur monumental di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Berdiri di atas lahan seluas 32.125 m2, area komersial seluas 2.221 m2, dan area kolam retensi seluas 123.502 m2. Sementara itu, luas total bangunannya sebesar 59.081 m2 dengan desain kubah unik menyerupai sorban.

Bangunan masjid ini terdiri dari bangunan masjid seluas 56.220,3 m2 (3 Lower Ground, 1 Ground Floor, 2 Mezzanine), bangunan komersial seluas 2.134 m2 (2 lantai), dan bangunan penunjang seluas 727 m2 (1 lantai).

Masjid Negara IKN diproyeksikan mampu menampung jemaah dengan kapasitas 61.392 orang. Pembangunan Masjid Negara dilakukan oleh PT. Adhi Karya – PT. Hutama Karya KSO dengan total biaya konstruksi sebesar Rp 991 miliar. Pelaksanaan pembangunannya dimulai sejak November 2023 dan ditargetkan selesai pada Desember 2024, namun baru 11 Januari 2026 di masjid ini difungsikan secara penuh ditandai dengan Sholat Subuh berjamaah dengan imam Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Pembangunan masjid ini tidak hanya mengedepankan estetika arsitektur modern, tetapi juga prinsip green building yang selaras dengan konsep IKN sebagai kota hutan (forest city). Kehadiran Menag di masjid ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan IKN sebagai pusat peradaban yang inklusif namun tetap religius.

Pertemuan subuh tersebut diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan kelancaran pembangunan IKN. Bagi para jemaah, pesan Menag menjadi pengingat bahwa di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit yang mulai tumbuh di Nusantara, kebersihan hati harus tetap menjadi fondasi utama bagi setiap insan yang menghuninya.(rls/mn)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button