Isro’ Mi’roj dan Menyambut Ramadhan: Meneguhkan Spirit Iman dan Kepedulian Sosial

Dr. Hartono
Dosen STAIS Kutai Timur dan Dewan Pengawas/Penjamin Mutu Yayasan Darul Falah
Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW senantiasa menghadirkan ruang perenungan yang mendalam bagi umat Islam. Peristiwa agung yang menegaskan kewajiban shalat lima waktu ini bukan sekadar momentum seremonial tahunan, melainkan pengingat akan pentingnya hubungan vertikal manusia dengan Allah SWT yang harus senantiasa terjaga. Dalam konteks inilah, kegiatan Isro’ Mi’roj dan menyambut Bulan Suci Ramadhan yang diselenggarakan oleh Yayasan Darul Falah Al Islami di Desa Wahau Baru, Kecamatan Muara Wahau, menjadi sangat relevan dan bermakna.
Isro’ Mi’roj mengajarkan bahwa spiritualitas tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Rasulullah SAW tidak hanya menerima perintah shalat, tetapi juga membawa misi peradaban: membangun masyarakat yang berakhlak, berkeadilan, dan berkeadaban. Nilai-nilai inilah yang seharusnya terus dihidupkan dalam setiap kegiatan keagamaan. Oleh karena itu, ketika Yayasan Darul Falah Al Islami menggelar peringatan Isro’ Mi’roj sekaligus menyambut Ramadhan, sesungguhnya yang dibangun bukan hanya acara keagamaan, melainkan penguatan fondasi moral masyarakat.
Yayasan Darul Falah Al Islami telah menunjukkan komitmennya dalam membina generasi melalui berbagai lembaga pendidikan yang dikelolanya, mulai dari Pondok Pesantren, TK, SD, hingga SMP. Di bawah kepemimpinan Bapak Nurman Hadi, S.Pd., yayasan ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan formal, tetapi juga menjadi pusat pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman. Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan akhlak menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat Desa Wahau Baru dan sekitarnya.
Momentum Isro’ Mi’roj yang dirangkaikan dengan penyambutan Ramadhan memberikan pesan yang kuat bahwa pendidikan spiritual harus berjalan beriringan dengan pendidikan intelektual. Ramadhan sendiri merupakan madrasah kehidupan—bulan pelatihan kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Dengan adanya kegiatan ini, para santri, siswa, dan masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa ibadah tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga berdampak pada perilaku sosial sehari-hari.
Hal yang patut diapresiasi adalah konsistensi Yayasan Darul Falah Al Islami dalam menjalankan kegiatan sosial. Program khitan massal dan pendampingan kaum duafa menjadi bukti nyata bahwa nilai rahmatan lil ‘alamin diterjemahkan dalam tindakan konkret. Keberadaan yayasan ini tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tetapi juga oleh masyarakat luas yang membutuhkan uluran tangan.
Inilah wajah Islam yang humanis—hadir, peduli, dan solutif terhadap persoalan sosial.
Dalam suasana menyambut Ramadhan, semangat berbagi dan memperkuat solidaritas sosial menjadi semakin penting. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merasakan penderitaan sesama dan menumbuhkan empati. Oleh karena itu, kegiatan sosial yang terus diaktifkan oleh yayasan sejalan dengan esensi Ramadhan itu sendiri. Spirit Isro’ Mi’roj yang meneguhkan shalat sebagai tiang agama harus tercermin dalam perilaku sosial yang adil dan penuh kasih.
Lebih jauh lagi, kegiatan seperti ini juga memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Desa Wahau Baru sebagai bagian dari Kecamatan Muara Wahau tentu membutuhkan ruang-ruang kebersamaan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Acara keagamaan yang dikemas secara edukatif dan inspiratif mampu menjadi media silaturahmi sekaligus penguatan nilai-nilai kebersamaan. Dari sinilah akan lahir masyarakat yang religius sekaligus harmonis.
Peran pimpinan dan pengurus yayasan tentu menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan program-program tersebut. Kepemimpinan yang visioner, kolaboratif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat menjadi kunci berkembangnya lembaga pendidikan dan sosial. Dukungan masyarakat pun menjadi energi utama agar setiap program dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, peringatan Isro’ Mi’roj dan kegiatan menyambut Bulan Suci Ramadhan ini hendaknya tidak berhenti pada seremoni semata. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus membekas dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Shalat yang ditegaskan dalam peristiwa Mi’roj hendaknya membentuk pribadi yang jujur dan bertanggung jawab. Puasa Ramadhan hendaknya melahirkan insan yang sabar, disiplin, dan peduli terhadap sesama.
Semoga kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Darul Falah Al Islami ini berjalan dengan lancar, penuh khidmat, dan membawa keberkahan bagi seluruh pihak yang terlibat. Semoga pula lembaga ini senantiasa diberi kekuatan dan istiqamah dalam mendidik generasi serta melayani masyarakat melalui program-program sosialnya. Dengan sinergi antara spiritualitas, pendidikan, dan kepedulian sosial, cita-cita membangun masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia insya Allah dapat terwujud.







