BudayaKutai TimurWisata

Pesta Adat Lom Plai 2025, Merawat Warisan Leluhur di Nehas Liah Bing

KUTAI TIMUR, Netizens.id — Dentuman gong dan gendang adat bergema di udara senja Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau. Bunyi yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian ritual sakral Pesta Adat Lom Plai 2025, sebuah perayaan yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam.

Di kampung yang terletak sekitar 164 kilometer dari Sangatta ini, jantung tradisi Dayak Wehea kembali berdetak kencang. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, masyarakat adat menjalankan ritual warisan leluhur dengan penuh khidmat dan suka cita.

“Kami mulai dengan Melhaq Pangsehmei pada 25 Februari, lalu Ngesea Egung di hari yang sama,” tutur Ledjie Taq dengan mata berbinar. Kepala Adat Wehea ini menyambut kami di rumah besarnya yang menghadap Sungai Wehea, Sabtu (26/4/2025).

Ledjie Taq (lahir 19 Februari 1953) adalah kepala adat suku Dayak Wehea, kampung Nehas Liah Bing, Muara Wahau, Kutai Timur.

Melhaq Pangsehmei bukanlah sekadar ritual biasa. Ini adalah wujud penghormatan kepada Long Diang Yung, sosok yang dalam mitologi Wehea rela mengorbankan dirinya agar manusia dapat memperoleh padi. “Bagi kami, padi adalah kehidupan itu sendiri,” tambah Ledjie dengan suara yang dalam dan penuh penghayatan.

Dalam tata kehidupan Orang Wehea, padi diperlakukan layaknya manusia yang harus dihormati dan dikasihi. Oleh karena itu, Lom Plai melebihi sekadar sebuah perayaan biasa, ia adalah ungkapan syukur, doa, dan harapan kolektif untuk kesuburan bumi serta keberlimpahan hasil panen di masa mendatang.

Puncak festival tahun ini jatuh pada Sabtu 26 April. Sejak dini hari, kampung sudah riuh dengan kesibukan ritual Embob Jengea memasak lemang dan beang bit. Aroma lemang, ketan gurih yang dimasak dalam bambu, berpadu dengan wangi beang bit, kudapan manis berbahan dasar gula merah dan santan yang mirip dodol.

Atraksi Seksiang: Tradisi perang-perangan seru di atas sungai menggunakan tombak dari rumput gajah, mencerminkan kekompakan, ketangkasan, dan semangat kebersamaan masyarakat Dayak Wehea.

Seiring matahari meninggi, kegiatan berpindah ke Sungai Wehea. Di sana, lomba dayung Plaq Saey mengundang decak kagum penonton. Puluhan pria dan wanita menunjukkan ketangkasan mereka melawan arus sungai. Disusul atraksi Seksiang, perang-perangan tradisional dengan tombak dari rumput gajah yang menguji keberanian dan kelincahan para pemuda.

“Dulu, ini adalah cara melatih prajurit untuk berperang. Sekarang, ini menjadi cara kita mewarisi semangat leluhur.”jelas Ledjie Taq, sesepuh desa yang sudah mengikuti puluhan kali perayaan Lom Plai.

Tradisi saling coreng arang dan siram air, simbol membersihkan diri dan menjaga persaudaraan dan tidak boleh marah.

Tak lama kemudian, tiba saatnya tradisi yang paling ditunggu-tunggu kaum muda siram-siraman air dan mengoleskan arang hitam di wajah. Ember, panci, dan wajan berubah fungsi menjadi alat kegembiraan. Tua muda, laki-laki perempuan, bahkan tamu sekalipun tak ada yang luput dari ritual keceriaan ini.

“Siram-siraman ini yang paling seru,” ujar Mita sambil tertawa lepas. Gadis 22 tahun ini sudah tak peduli dengan wajah dan bajunya yang basah dan penuh jelaga. “Ini cara kami menghilangkan batas sosial, semua menjadi satu dalam kebahagiaan.”

Pesona Hudoq Wehea: Tarian sakral suku Dayak Wehea di Kalimantan Timur yang memohon keberkahan dan hasil panen berlimpah. Warisan budaya yang penuh warna, makna, dan kekuatan alam.

Saat langit mulai memerah, festival ditutup dengan tarian Hedoq di Lapangan Pemuda. Para penari mengenakan topeng kayu berukir dan kostum dari daun pisang kering. Gerakan mereka yang ritmis mengisahkan hubungan manusia dengan roh alam dan leluhur.

Ledjie Taq menegaskan, meski tahun ini Lom Plai belum masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN), semangat untuk mempertahankan tradisi tetap membara. “Ini warisan yang harus terus hidup, apapun tantangannya,” ujarnya dengan tegas namun penuh harap.

Kepala Dinas Pariwisata Kutai Timur, Nurullah.

Kepala Dinas Pariwisata Kutai Timur, Nurullah, yang turut hadir dalam perayaan mengakui potensi besar festival ini. “Selain sebagai pelestarian budaya, festival ini juga membawa dampak nyata terhadap ekonomi lokal. Selama festival, perputaran uang cukup besar. Kita berharap ini mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi kreatif,” katanya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Orang Wehea tetap teguh menjaga janji pada leluhur: merawat padi, menghormati alam, dan membiarkan suara gong dan gendang adat tetap berdentang, menembus waktu dan ruang, mewariskan kebijaksanaan bagi generasi yang akan datang. (Ty)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button