Kompleksitas Administrasi Bankeudes Hambat Pencairan Dana

KUTAI TIMUR, Netizens.id – Sistem pengelolaan keuangan desa yang harus disesuaikan dengan kode-kode kegiatan menjadi tantangan dalam pelaksanaan program Bankeudes di Sangatta Selatan. Dengan total anggaran Rp11,5 miliar untuk 46 RT, pekerjaan administratif menjadi sangat kompleks.
Kepala Desa Sangatta Selatan Muhajir menjelaskan, pengelolaan Bankeudes tidak sesederhana yang terlihat. Tim teknis desa harus membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk setiap kegiatan yang diusulkan RT dan memastikan semuanya sesuai dengan sistem pengelolaan keuangan desa.
“Ini menjadi kerja berat karena kita harus menghitung, membuat RAB oleh tim, belum lagi karena kita dihadapkan dengan sistem pengelolaan keuangan yang masuk dan ini harus berkesesuaian dengan kode-kode kegiatan,” ungkapnya, Senin (16/02/2026).
Setiap kegiatan yang dibiayai dari Bankeudes harus memiliki kode kegiatan yang sesuai dalam sistem informasi keuangan desa. Jika tidak sesuai, pencairan dana akan terhambat atau bahkan tidak bisa dilakukan.
Dengan 46 RT yang masing-masing memiliki beragam usulan kegiatan, jumlah RAB yang harus dibuat bisa mencapai ratusan dokumen. Setiap RAB harus detail mencantumkan volume, harga satuan, dan total biaya yang dibutuhkan.
“Memang tidak sesederhana yang kita lihat. Pekerjaan ini sangat berat dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan semua administrasinya,” tambahnya.
Selain itu, semua kegiatan yang dibiayai Bankeudes harus tercantum dalam dokumen perencanaan desa seperti RPJMDes dan RKPDes. Jika ada usulan yang belum masuk dalam dokumen perencanaan, harus dilakukan perubahan terlebih dahulu.
Tim pengelola keuangan desa yang terbatas juga menjadi kendala. Dengan volume pekerjaan yang sangat besar, tim harus bekerja ekstra untuk memastikan semua administrasi selesai tepat waktu agar kegiatan di lapangan tidak terhambat.
Pemerintah desa sudah mengantisipasi kompleksitas ini dengan memulai persiapan administratif sejak dini. Meski dana belum cair, pekerjaan pembuatan RAB dan penyesuaian sistem sudah dimulai agar saat dana turun bisa langsung dicairkan.
“Secara fisik beberapa kegiatan sudah dimulai meski dana belum keluar. Kami yakin dana akan segera cair setelah semua administrasi selesai,” jelasnya optimis.
Koordinasi dengan pendamping desa dan konsultan keuangan desa juga intensif dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam administrasi. Kesalahan kecil dalam sistem bisa berakibat dana tidak bisa dicairkan.
Pemerintah desa berharap ke depan ada penyederhanaan sistem pengelolaan keuangan desa, terutama untuk program seperti Bankeudes yang melibatkan banyak kegiatan kecil di tingkat RT. Sistem yang terlalu rumit justru menghambat pelaksanaan program di lapangan.
“Kami tetap berkomitmen melaksanakan Bankeudes dengan transparan dan akuntabel. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus bisa dipertanggungjawabkan sesuai regulasi yang berlaku,” tutupnya.(Q).







