Lelah yang Berbicara

Oleh: Ekky Yudistira
Founder Konsorsium Media Politika
Aku sudah tidak marah lagi. Sudah lama sekali, sebenarnya.
Marah itu butuh energi. Dan energiku habis, entah di mana persisnya. Mungkin di antrean pelayanan yang panjangnya tidak masuk akal. Mungkin waktu membaca laporan pengadaan yang angkanya meloncat-loncat seperti tidak ada yang mengawasi, padahal semua orang tahu semua orang mengawasi, hanya saja tidak ada yang berani bicara.
Daerah ini kabupaten yang kaya. Tanahnya menyimpan batu bara, kebun sawitnya membentang sampai tempat yang sulit dijangkau mata, lautnya masih bisa diandalkan. Tapi entah kenapa, setiap kali aku lewat jalan yang sama, lubangnya masih di situ. Bukan lubang kecil. Lubang yang sudah jadi semacam penanda, di sinilah uang berhenti mengalir ke arah yang seharusnya.
Di sebelah barat kami, IKN sedang dibangun. Ibu kota baru. Proyek peradaban, katanya. Hutan dibabat, tanah diratakan, narasi besar diproduksi setiap minggu. Kami di sini ikut menanggung sejarahnya, tanah kami bagian dari wilayah yang disebut-sebut dalam pidato. Tapi lingkungan kami masih rusak dan tambah rusak. Guru yang honornya telat itu masih menunggu. Janji-janji itu masih cukup dicetak di spanduk pinggir jalan, tidak perlu sampai ke kenyataan.
Aku sudah membaca dokumen RUP Sekretariat Daerah tahun ini. Bukan sekali. Beberapa kali, sampai angkanya hafal sendiri. Ada yang ganjil di sana, kalau mau jujur. Anggaran makan minum yang membengkak di tahun yang sama ketika APBD katanya dipangkas untuk efisiensi. Proyek-proyek yang dipecah-pecah dengan cara yang sudah cukup dikenal, biar tidak perlu tender, biar tidak perlu dipertanyakan, biar semuanya jalan dengan tenang. Tekniknya tidak baru. Tapi pelakunya selalu tampil baru, dengan wajah yang berbeda dan diksi yang lebih segar.
Yang paling melelahkan bukan korupsinya. Yang paling melelahkan adalah cara semua orang sudah tahu tapi terus pura-pura belum tahu. Forum dihadiri, laporan dibacakan, tepuk tangan diberikan di waktu yang tepat. Pertanyaan diajukan dengan nada yang cukup kritis untuk dianggap kritis, tapi tidak cukup tajam untuk mengancam siapa pun. Semuanya berjalan. Hanya saja, yang berjalan bukan pembangunan. Yang berjalan adalah mekanisme untuk memastikan pembangunan tetap bisa ditunda.
Wilayah ini bukan kabupaten miskin. Ini perlu dikatakan keras-keras karena sering dilupakan, kita tidak miskin karena tidak punya sumber daya. Kita miskin dalam hal tertentu karena sumber daya itu dikelola oleh orang-orang yang tidak pernah benar-benar berpikir bahwa rakyat di luar jendela kantor mereka itu nyata, bukan sekadar angka di laporan realisasi.
Dulu aku ingin menghancurkan semuanya. Bukan secara harfiah, tapi keinginan untuk membongkar, untuk membuat semuanya runtuh dan dimulai dari awal, itu pernah terasa sangat nyata. Sekarang tidak. Sekarang aku hanya ingin seseorang yang duduk di kursi itu benar-benar duduk untuk melayani, bukan untuk dilayani. Keinginan yang sederhana, sebenarnya. Bahkan membosankan, karena sudah terlalu sering diucapkan.
Tapi mungkin itulah yang paling menyedihkan dari semua ini, bahwa keinginan paling mendasar pun terasa seperti kemewahan yang belum terbeli.







