Advertorial

DLH Kutim Promosikan Ekonomi Sirkular, Sampah Jadi Sumber Daya Bernilai Ekonomi

KUTAI TIMUR, Netizens.id – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur mempromosikan konsep ekonomi sirkular yang menjadikan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi, sejalan dengan tujuan pengelolaan sampah dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 yang menekankan asas nilai ekonomi..

Dewi, Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup DLH Kutai Timur menjelaskan, paradigma pengelolaan sampah harus berubah dari sampah sebagai masalah menjadi sampah sebagai peluang ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“UU Nomor 18 Tahun 2008 Pasal 4 menyebutkan pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Ini adalah visi besar yang harus kita wujudkan bersama,” ungkap Dewi saat dikonfirmasi terkait sosialisasi di Gedung Wanita belum lama ini, Minggu (23/11/2025).

Dewi memaparkan, saat ini sudah ada praktik ekonomi sirkular sampah di Kutai Timur meskipun masih terbatas. Bank Sampah mengelola 2,472 ton per hari, pengepul mengelola 5,380 ton per hari, dan Rumah Maggot mengelola 0,220 ton per hari, semuanya memberikan nilai ekonomi kepada pelaku.

“Di Bank Sampah, masyarakat dapat menukarkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dengan uang atau barang kebutuhan. Ada ibu rumah tangga yang dapat penghasilan tambahan ratusan ribu rupiah per bulan dari menyetor sampah ke Bank Sampah,” jelas Dewi.

Ia menambahkan, pengepul sampah juga merupakan bagian penting dari ekonomi sirkular yang menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Pengepul membeli sampah dari masyarakat kemudian menjualnya ke industri daur ulang dengan margin keuntungan.

“Bisnis pengepul sampah sebenarnya sangat menjanjikan. Dengan volume sampah yang terus meningkat dan harga bahan daur ulang yang cukup tinggi, pengepul bisa mendapat keuntungan yang baik. Ini adalah bisnis berkelanjutan karena sampah tidak akan pernah habis,” tambah Dewi.

Dewi juga menjelaskan potensi ekonomi dari pengolahan sampah organik menjadi kompos. Dengan 228,167 ton sampah per hari dimana sekitar 60 persen adalah sampah organik, potensi produksi kompos sangat besar.

“Sampah organik yang diolah menjadi kompos memiliki nilai jual. Kompos berkualitas baik bisa dijual ke petani, perkebunan, atau pengelola taman dengan harga Rp500-1.000 per kilogram. Jika dihitung, potensi ekonominya sangat besar,” papar Dewi.

Teknologi Maggot BSF (Black Soldier Fly) yang sudah diterapkan di Rumah Maggot dengan kapasitas 0,220 ton per hari juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Maggot yang dihasilkan dapat dijual sebagai pakan ternak atau ikan dengan harga tinggi.

“Maggot BSF adalah protein tinggi yang sangat dibutuhkan industri peternakan dan perikanan. Harga maggot bisa mencapai Rp15.000-20.000 per kilogram. Selain itu, kasgot atau bekas media maggot juga bisa dijual sebagai pupuk organik,” jelas Dewi.

Dewi mengungkapkan, untuk mewujudkan ekonomi sirkular sampah yang optimal, dibutuhkan ekosistem yang mendukung mulai dari pemilahan di sumber, pengumpulan terpilah, pengolahan di berbagai fasilitas, hingga pemasaran produk daur ulang.

“Pemerintah harus memfasilitasi pembentukan Bank Sampah, TPS3R, dan unit pengolahan lainnya. Tapi yang tidak kalah penting adalah menciptakan pasar bagi produk daur ulang. Percuma produksi kompos banyak kalau tidak ada yang beli,” tambah Dewi.

Ia menekankan, program Kutai Timur Minim Sampah yang dikampanyekan dalam Instruksi Bupati juga harus dilihat dari perspektif ekonomi. Pengurangan sampah berarti penghematan biaya pengelolaan, sementara pemanfaatan sampah berarti penciptaan nilai ekonomi.

“Biaya operasional pengelolaan sampah di Kutai Timur sangat besar, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga pemrosesan akhir. Jika sampah berkurang 30 persen, biaya yang dihemat bisa dialokasikan untuk program lain yang lebih produktif,” papar Dewi.

Dewi juga mengajak pelaku usaha untuk melihat sampah sebagai bahan baku. Industri kreatif dapat mengolah sampah menjadi produk fashion, kerajinan, atau furniture yang bernilai jual tinggi.

“Ada desainer yang membuat tas dari kemasan kopi bekas, ada pengrajin yang membuat furniture dari kayu pallet bekas, ada seniman yang membuat karya seni dari sampah plastik. Ini semua adalah contoh ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi produk bernilai tinggi,” jelas Dewi.

Dengan mengoptimalkan ekonomi sirkular sampah, Dewi optimis target pengelolaan sampah 100 persen pada 2029 dapat tercapai sambil menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ekonomi sirkular adalah win-win solution. Lingkungan terjaga karena sampah terkelola dengan baik, masyarakat sejahtera karena mendapat penghasilan dari sampah, dan pemerintah hemat biaya pengelolaan. Ini adalah model pembangunan berkelanjutan yang harus kita kejar,” pungkas Dewi. (Adv-Kominfo/Qi)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button