Bukit Pelangi “Sisa Hijau” di Kota Sangatta

KUTAI TIMUR – Suara gemuruh truk tambang raksasa memang masih terdengar di kejauhan. Debu batubara sesekali masih mengepul dari area pertambangan. Namun di tengah hiruk-pikuk industri ekstraktif yang menjadi jantung ekonomi Kutai Timur, tersembunyi sebuah oasis hijau yang sedikit menyejukkan wajah Sangatta: Bukit Pelangi.
Cerita Bukit Pelangi dimulai dari visi sederhana: menciptakan ruang napas bagi warga kota tambang. Dulunya dikenal sebagai “Gunung Tim”, kawasan seluas 60 hektare di ketinggian 78 meter di atas permukaan laut ini mengalami perubahan nama menjadi Rainbow Hill atas keputusan Bupati Kutim pertama, H Awang Faroek Ishak.
Memang unik. Bukit Pelangi bukan hanya destinasi wisata, tapi juga pusat pemerintahan. Hampir seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kutai Timur berkantor di sini. Pagi hari, kawasan ini sibuk dengan pegawai negeri yang lalu-lalang. Sore hari, berubah menjadi taman bermain keluarga. Malam hari, jadi tempat pacaran dan kontemplasi.
Di antara semua venue Bukit Pelangi, satu yang paling mencuri perhatian adalah monumen truk tambang Liebherr T282B. Bukan replika mainan, tapi truk sungguhan senilai Rp 40 miliar—salah satu dari hanya 30 unit yang ada di seluruh dunia.
Dimensinya? Panjang 14,5 meter, lebar 8,7 meter, tinggi 7,4 meter. Bannya saja setinggi 6,6 meter—lebih tinggi dari rumah satu lantai. Mesinnya bertenaga 3.650 kuda dengan tangki bahan bakar 4.732 liter. Angka-angka yang sulit dibayangkan sampai Anda berdiri tepat di depannya dan merasa seperti semut.
Truk ini bukan sekadar simbol industri pertambangan. Ia juga representasi dari paradoks Kutai Timur: kekayaan alam yang digali dengan mesin monster, tapi hasil ekstraksinya tidak sepenuhnya dinikmati oleh warga lokal. Keberadaan monumen ini di tengah taman bermain anak seakan mengingatkan: jangan lupakan akar ekonomi kita, tapi juga jangan korbankan masa depan.
“Dulu saya pikir Sangatta itu cuma soal tambang. Panas, berdebu, dan nggak ada tempat rekreasi. Tapi sejak Bukit Pelangi dibenahi, rasanya punya rumah kedua. Tempat pelarian dari rutinitas.”kenang Faiz (32), warga Kecamatan Sangatta Utara yang kini rutin menghabiskan sore harinya di kawasan ini.
Konsep Taman yang Tidak Biasa
Yang membuat Bukit Pelangi berbeda dari taman kota kebanyakan adalah konsep penamaan yang nyeleneh: semua taman dinamai dari benda-benda langit. Ada Taman Venus, Taman Nomad, Taman Angkasa, Taman Bintang, Taman Bumi. Seolah pengunjung diajak bertualang ke luar angkasa tanpa meninggalkan Bumi.
“Kalau anak saya sudah main di sini, bisa sampai berjam-jam. Tapi saya nggak keberatan. Fasilitasnya bagus, bersih, dan yang paling penting bebas asap rokok.”ungkap salah satu pengunjung taman sambil mengawasi anaknya yang sedang asyik meluncur di perosotan.
Taman Venus memang dirancang khusus sebagai zona ramah anak. Tidak ada pedagang rokok. Tidak ada musik keras. Tidak ada satpam galak yang melarang ini-itu. Anak-anak bebas berlarian, tertawa, berteriak—hal-hal yang sering dilarang di ruang publik lainnya.
Lokasi Taman Venus yang berhadapan langsung dengan Masjid Bukit Pelangi Sangatta juga menciptakan kombinasi unik: anak-anak bermain, orang tua shalat, kehidupan spiritual dan duniawi bertemu dalam radius 50 meter.
Jika Taman Venus untuk anak-anak, Taman Nomad adalah magnit bagi pecandu foto Instagram dan anak laki-laki yang bermimpi jadi pilot. Di tengah taman berdiri sebuah pesawat intai Angkatan Laut—bukan replika, tapi pesawat sungguhan yang sudah pensiun dan dijadikan monumen.
Kehadiran pesawat ini memang menciptakan narasi yang menarik. Bagaimana sebuah alat perang bisa berubah fungsi menjadi alat perdamaian—atau setidaknya, alat penghibur. Bagaimana yang dulunya digunakan untuk patroli dan pengawasan, kini bisa menjadi latar belakang foto-foto bahagia keluarga Indonesia.
Ketika matahari terbenam dan lampu-lampu kota mulai menyala, satu bangunan menonjol dengan kemegahan arsitekturnya: Masjid Agung Al Faruq di kompleks Islamic Center. Berkapasitas lebih dari 10.000 jamaah, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga landmark spiritual Kutai Timur.
“Masjid ini sering jadi tempat penyelenggaraan MTQ, penyambutan jamaah haji, bahkan pendidikan Islam usia dini. Di malam hari, cahayanya yang indah membuat orang-orang berdatangan hanya untuk melihat.”jelas salah seorang pengurus masjid.
Dan memang benar. Ketika malam tiba, tidak sedikit pasangan muda yang duduk di bangku taman sambil memandangi siluet masjid yang bertabur cahaya. Romantisme dan spiritualitas dalam satu frame.
Salah satu tantangan terbesar Bukit Pelangi adalah menjaga kebersihan. Dengan ribuan pengunjung setiap harinya—terutama saat akhir pekan—volume sampah meningkat drastis. Petugas kebersihan kewalahan. Anggaran pemerintah terbatas.
Tantangan lainnya adalah transportasi umum. Hingga kini, belum ada angkutan umum yang khusus melayani rute ke Bukit Pelangi. Pengunjung harus mengandalkan kendaraan pribadi—sebuah hambatan bagi warga kelas menengah bawah yang tidak punya motor atau mobil.
“Idealnya ada bus wisata atau shuttle gratis. Biar semua kalangan bisa menikmati. Jangan cuma yang punya kendaraan.”usul salah satu pengunjung.
Sunset dan Pelangi: Dua Pemandangan yang Tidak Boleh Dilewatkan
Jika Anda bertanya kepada pengunjung reguler Bukit Pelangi tentang waktu terbaik berkunjung, jawabannya seragam: sore hari, sekitar pukul 17.00-18.30 WITA.
“Sunsetnya luar biasa, Jika dilihat dari puncak menara pandang. Langit berubah warna dari biru ke jingga, lalu ungu, lalu gelap. Dan kalau beruntung, setelah hujan sore, muncul pelangi. Makanya namanya Bukit Pelangi.”kata Faiz
Pelangi. Simbol harapan. Simbol bahwa setelah badai akan ada keindahan. Simbol bahwa Kutai Timur—meski dikenal sebagai kota tambang—masih punya ruang untuk mimpi, untuk warna-warni kehidupan, untuk generasi mendatang yang layak menikmati alam.
Bukit Pelangi adalah bukti bahwa ruang publik berkualitas tidak harus mahal. Tidak harus berbayar. Tidak harus eksklusif. Dengan tiket masuk gratis dan fasilitas memadai, kawasan ini demokratis: siapa pun bisa datang, dari pekerja tambang sampai direktur perusahaan, dari balita sampai lansia.
Dan mungkin, inilah pelajaran terbesar dari Bukit Pelangi: bahwa pembangunan tidak selalu tentang gedung pencakar langit atau jalan tol. Kadang, yang paling dibutuhkan masyarakat adalah tempat untuk duduk bersama keluarga, melihat matahari terbenam, dan percaya bahwa masa depan masih menyimpan pelangi.(Q)







