Realita Psikologis dan Sistemik Dari Membangun Media Sendirian

(Lanjutan dari Opini Sebelumnya: Ketika Mimpi Romantis Bertemu Realitas Regulasi)
Oleh: Ekky Yudistira
Founder Konsorsium Media Politika
KAMU sudah baca opini saya sebelumnya? Yang bahas soal regulasi yang bikin geleng-geleng kepala itu? Good. Jika belum, baca dulu, karena opini yang sedang kamu baca ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari opini sebelumnya yang berjudul Ketika Mimpi Romantis Bertemu Realitas Regulasi.
Sekarang kita masuk ke bagian yang lebih brutal: realita psikologis dan sistemik di balik mimpi membangun media sendirian. Karena ternyata, masalah terbesar bukan cuma soal Rp 50 juta modal dasar atau PT yang harus kamu bikin. Masalah terbesar adalah kamu sendiri — manusianya, mentalnya, energinya yang terbatas.
Dan sistem industri media Indonesia yang udah rusak duluan sebelum kamu mulai.
Realita di Lapangan: 3.886 Media Online, Tapi Berapa yang Sehat?
Menurut data Press Council, pada 2024 terdapat setidaknya 5.019 media companies yang aktif. Online media mendominasi dengan 3.886 outlets (77,43 persen), lebih dari setengahnya adalah small newsrooms.
Kedengarannya bagus, kan? Banyak media online! Demokratisasi informasi!
Bullshit.
Pertanyaannya bukan “berapa banyak media online yang ada,” tapi “berapa yang masih hidup tahun depan?” Dan yang lebih penting: “Berapa foundernya yang gak burnout di tahun pertama?”
Karena inilah realita yang gak pernah diomongin di seminar-seminar motivasi media:
Media kecil bukan mati karena kurang bagus kontennya. Media kecil mati karena foundernya tumbang duluan.
Coba saya tanya: Dalam sehari, kamu ngerjain apa aja?
– Pagi: Riset berita, cek trending topic, bikin list konten
– Siang: Wawancara narasumber, nulis artikel, cek fakta
– Sore: Edit tulisan sendiri (yang notabene susah karena matamu udah kebal sama kesalahanmu sendiri)
– Malam: Bikin desain thumbnail, upload, atur jadwal posting, balas komen toxic di media sosial
– Tengah malam: Cek analytics, mikir strategi besok, cemas kenapa view menurun
(Yakin kamu melakukan ini semua?)
Dan besoknya? Ngulang lagi dari awal.
Ini bukan pekerjaan. Ini hamster wheel versi digital.
Kamu muter cepat, tapi gak ke mana-mana. Energi terkuras. Mental jebol. Dan akhirnya, media yang dibangun dengan idealisme tinggi jadi beban yang lo hindari setiap pagi.
Sebelum kita lanjut, mari kita lihat realita industri media Indonesia yang kamu mau masukin:
1. Kesejahteraan yang Hancur
Hasil riset AJI pada Februari-April 2023 menemukan hampir 50 persen upah jurnalis masih di bawah upah minimum, dan belasan persen lainnya menyatakan upah mereka tidak menentu atau mendapat upah dari komisi iklan.
50 persen di bawah UMR. Di media yang SUDAH PUNYA STRUKTUR PERUSAHAAN.
Sekarang bayangin kamu yang sendirian. Kamu ngasih gaji ke diri sendiri dari mana? Dari traffic yang sepi? Dari sponsor yang gak datang? Dari duit pribadi yang kamu pake buat bayar domain dan hosting?
2. Burnout yang Nyata
Profesi jurnalis sangat rawan terhadap kelelahan mental yang tidak terlihat, dengan banyak dari mereka mengalami gejala burnout, gangguan tidur, atau kecemasan berlebihan, tetapi merasa tidak punya waktu atau ruang untuk memprosesnya.
Dan ini jurnalis yang kerja di media besar, lho. Yang punya tim. Yang ada sistem support.
Kamu yang sendirian? Multiply that by 10.
3. Jurnalisme Jadi Profesi “Sementara”
Sebagian besar responden sulit untuk membayangkan akan memiliki karier sebagai jurnalis sampai usia pensiun, dan jurnalisme menjadi profesi sementara yang digunakan untuk bertemu dengan banyak orang dan berjejaring, kemudian membuka pintu pekerjaan yang baru.
Bahkan jurnalis yang kerja di media established aja mikir jurnalisme cuma “batu loncatan.” Bukan karier jangka panjang.
Sekarang kamu mau bikin media sendiri, sendirian, dengan ekspektasi ini akan jadi sumber income utamamu?
Good luck with that.
MITOS ONE MAN SHOW — DEBUNKING DENGAN DATA DAN REALITAS
Media yang bertahan bukan yang posting tiap hari. Tapi yang posting konten yang:
– Punya tema konsisten
– Menyasar audiens spesifik
– Menyelesaikan masalah konkret
Rutin tanpa strategi = capek.
Rutin dengan sistem = hasil.
Tapi masalahnya, kamu yang sendirian kapan punya waktu bikin sistem? Kamu aja keburu habis tenaga bikin konten hari ini.
Ada konten bagus yang tenggelam. Ada konten sampah yang meledak. Viral itu kombinasi momentum, distribusi, kemasan, relevansi, timing, dan keberuntungan.
Yang lebih penting: kamu tidak sedang membangun viral empire tapi sedang membangun trust empire.
Masalahnya, trust butuh waktu. Trust butuh konsistensi. Trust butuh kamu tetap ada di sana setiap hari, setiap minggu, setiap bulan.
Dan kamu yang sendirian… bisa bertahan berapa lama?
2.000 pembaca loyal yang percaya, aktif, dan siap support lo itu jauh lebih berharga daripada 200.000 view dari orang yang datang, baca sekilas, lalu hilang selamanya.
Tapi kamu tau gak?
Untuk dapetin 2.000 pembaca loyal itu, kamu butuh:
– Konsistensi minimal 6-12 bulan
– Konten yang solve masalah konkret
– Interaksi genuine sama audiens
– Mental yang kuat saat fase sepi
Dan kamu mau ngelakuin semua itu sendirian? Sambil juga jadi reporter, editor, desainer, admin, marketing, dan CS?
REALITA BRUTAL INDUSTRI MEDIA INDONESIA
Landscape Media yang Sudah Rusak
Mainstream outlets sebagian besar dimiliki oleh sektor swasta yang mengontrol jaringan multiplatform baik di tingkat nasional maupun lokal, seperti MNC Group, Media Group, dan Trans Corp.
Artinya? Oligarki media itu nyata. Dan mereka punya sumber daya yang kamu gak akan pernah bisa tandingi:
– Modal ratusan miliar
– Tim ratusan orang
– Akses ke narasumber eksklusif
– Infrastruktur distribusi established
– Sistem legal yang kuat
Kamu yang sendirian mau compete sama mereka?
Di mana, dalam mimpi?
AJI Indonesia mencatat setidaknya ada 14 wartawan dan satu media massa yang dilaporkan menggunakan UU ITE selama tahun 2019-2021.
UU ITE. Pasal karet. Ancaman penjara. Dan kamu gak punya tim legal buat protect dirimu.
Satu laporan. Satu kasus. Dan mediamu bisa langsung mati. Karena kamu gak punya resources buat fight balik.
Tekanan dari pemerintah maupun pemilik modal terhadap jurnalis mendorong praktik self-censorship di kalangan jurnalis dan media, dengan jurnalis menghindari pemberitaan yang kritis terhadap pemerintah karena khawatir akan risiko tuntutan hukum.
Jadi bahkan media yang punya struktur dan resources aja takut. Self-censorship. Hindari konten kritis.
Lo yang sendirian, tanpa backup, tanpa perlindungan legal… mau seberapa berani?
FOUNDER FATIGUE — THE REAL KILLER
Ini yang paling ironis:
Semakin kamu kerja keras tanpa sistem, semakin cepat dirimu terbakar.
Karena tanpa sistem:
– Kamu ngulang kerjaan yang sama setiap hari
– Gak ada skala
– Gak bisa minta bantuan karena semua di kepalamu
– Kamu kejar engagement 24/7, tapi gak bangun ekosistem yang bisa jalan sendiri
Kerja keras itu gak salah. Tapi kerja keras tanpa desain kerja yang scalable? Bunuh diri pelan-pelan.
Coba jawab jujur:
1. Apa aja pekerjaan harian lo yang bisa dihilangkan atau diubah jadi sistem?
– Sebagian besar founder gak bisa jawab ini. Karena mereka masih mikir sebagai “executor,” bukan “system builder.”
2. Apa keputusan yang lo ambil tiap hari yang bisa dijadikan SOP?
– Kalau setiap upload butuh mikir dari nol, kamu bakal burnout. Tapi kalau semua udah dibikin template, SOP, sistem distribusi otomatis — otakmu bisa dipakai buat hal yang lebih besar.
3. Siapa orang yang bisa lo libatkan kalau sistemnya udah rapi?
– Kalau kamu gak bisa ngajarin orang lain ngelakuin hal yang sama, berarti kamu gak punya sistem. Dan tanpa sistem, gak akan ada pertumbuhan.
Political burnout—kelelahan mental akibat terus-menerus mengonsumsi informasi negatif yang berkaitan dengan politik dan konflik sosial—dapat memicu kecemasan, depresi, dan perasaan terasing.
Dan ini bukan cuma teori. Ini nyata. Jurnalis yang kerja 16 jam sehari, terus-menerus exposed ke berita buruk, konflik, kekerasan, korupsi…
Mental health mereka hancur. Gangguan tidur. Anxiety. Depresi.
Dan kamu mau ngelakuin ini sendirian? Tanpa support system? Tanpa tim yang bisa kamu ajak istirahat? Jika masih yakin menjalani ini sendirian ingat saran saya sebelumnya, belilah asuransi kesehatan yang bagus.







