Opini

PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong Mendidik dengan Semangat Al-Qur’an

Dr. Hartono
Wali Santriwati PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong

Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan moral generasi muda dewasa ini, kehadiran lembaga pendidikan berbasis Al-Qur’an menjadi oase yang menyejukkan. Salah satu lembaga yang patut mendapat perhatian adalah Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PPIQ) Miftahul Ulum Tenggarong. Pondok ini hadir bukan sekadar sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai ruang pembinaan karakter, spiritualitas, dan akhlak generasi muda dengan semangat Al-Qur’an sebagai fondasi utama.

Sejarah PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong dimulai pada tahun 2014. Pada fase awal pendiriannya, pondok ini memfokuskan diri pada program diniyah, yakni pendidikan keagamaan yang menitikberatkan pada penguatan dasar-dasar keislaman, pembelajaran Al-Qur’an, serta pembinaan akhlak santri. Langkah ini menunjukkan bahwa sejak awal, pondok ini telah memiliki orientasi yang jelas: mendidik generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, memahami ajaran Islam secara benar, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring dengan berjalannya waktu dan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang lebih komprehensif, pada tahun 2020 PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong mulai membuka pendidikan formal. Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pondok. Integrasi antara pendidikan diniyah dan pendidikan formal merupakan ikhtiar untuk menjawab tantangan zaman, di mana santri tidak hanya dituntut cakap dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki bekal akademik yang memadai untuk menghadapi realitas sosial, ekonomi, dan profesional di masa depan.

Yang membedakan PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong dengan banyak lembaga pendidikan lainnya adalah pola pembinaan santri yang berlangsung hampir sepanjang hari. Kegiatan di pondok dimulai sejak sebelum waktu subuh. Para santri dibiasakan bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan sholat malam, bermunajat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rutinitas ini bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi proses pembentukan jiwa: melatih kedisiplinan, keikhlasan, serta kepekaan spiritual sejak usia dini.

Setelah sholat subuh, aktivitas santri berlanjut dengan pembelajaran Al-Qur’an, baik tahsin maupun tahfidz. Al-Qur’an ditempatkan sebagai pusat kehidupan pondok. Santri tidak hanya dituntut mampu membaca dan menghafal, tetapi juga memahami adab terhadap Al-Qur’an serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Nilai-nilai Al-Qur’an diinternalisasikan dalam setiap aspek kehidupan pondok, mulai dari cara berbicara, bersikap kepada guru, hingga interaksi antar sesama santri.

Kegiatan pendidikan formal dan diniyah berjalan beriringan sepanjang hari. Pada siang hingga sore hari, santri mengikuti pembelajaran akademik sesuai kurikulum yang berlaku, tanpa meninggalkan ciri khas pesantren. Malam hari kembali diisi dengan kegiatan keagamaan, penguatan hafalan, kajian kitab, dan pembinaan akhlak. Aktivitas pondok baru berakhir setelah sholat isya, menjadikan seluruh waktu santri terisi dengan kegiatan yang terarah, terkontrol, dan bernilai ibadah.

Pola pendidikan seperti ini menjadi alasan utama mengapa banyak orang tua merasa sangat senang dan tenang menitipkan anak-anak mereka di PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong. Di tengah kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan bebas, pengaruh negatif media digital, serta degradasi moral remaja, pondok ini menawarkan lingkungan yang aman, religius, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak. Anak-anak tidak hanya dijaga secara fisik, tetapi juga dibimbing secara spiritual dan moral.

Harapan orang tua yang menitipkan anaknya di pondok ini umumnya sama: agar kelak anak-anak mereka tumbuh menjadi ahlul Qur’an dan memiliki akhlaqul karimah yang mulia. Harapan ini bukan tanpa dasar. Sistem pendidikan yang diterapkan di PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong secara nyata diarahkan untuk membentuk pribadi santri yang cinta Al-Qur’an, berakhlak santun, rendah hati, disiplin, dan bertanggung jawab.

Menjadi ahlul Qur’an dalam konteks pendidikan pesantren tidak dimaknai semata-mata sebagai penghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Lebih dari itu, ahlul Qur’an adalah mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan bertindak. Nilai kejujuran, kesabaran, keadilan, kasih sayang, dan amanah ditanamkan secara konsisten dalam keseharian santri. Akhlaqul karimah tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi dicontohkan dan dibiasakan dalam kehidupan pondok.

Keberadaan PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong juga memiliki makna strategis bagi masyarakat sekitar. Pondok pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat dakwah dan pembinaan umat. Santri dididik untuk kelak mampu berperan di tengah masyarakat, menjadi teladan, serta membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam berbagai lini kehidupan sosial.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, keberlanjutan lembaga pendidikan seperti PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong patut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pondok ini telah membuktikan komitmennya dalam mendidik generasi muda dengan semangat Al-Qur’an sejak 2014 hingga kini. Integrasi pendidikan diniyah dan formal yang dijalankan sejak 2020 menjadi langkah progresif yang relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan ruh pesantren.

Pada akhirnya, PPIQ Miftahul Ulum Tenggarong bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi ruang pembentukan manusia seutuhnya. Dengan Al-Qur’an sebagai napas pendidikan, pondok ini menanamkan harapan besar: melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, dan mulia dalam akhlak. Sebuah ikhtiar yang layak diapresiasi, direnungkan, dan dijadikan inspirasi bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button