Komdigi Gelar Dukungan Psikososial Lewat Dongeng untuk Anak Korban Banjir Sumbar

PADANG, Netizens.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar kegiatan Dukungan Psikososial untuk membantu pemulihan kondisi psikososial anak-anak yang menjadi korban banjir dan longsor di Sumatra Barat (Sumbar). Melalui sesi mendongeng, anak-anak diajak mengurangi rasa trauma akibat bencana sekaligus diperkenalkan kembali pada dunia literasi.
Aktivis Anak Maia Janitra mengatakan bahwa mendongeng menjadi salah satu sarana efektif untuk mengembalikan semangat anak-anak setelah bencana, terutama di tengah tingginya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut jauh lebih baik dan efektif daripada membiarkan anak bermain gawai sepanjang hari.
Interaksi langsung saat bercerita membantu pendamping memahami cara berpikir anak dan memperkuat hubungan emosional.
“Mendongeng mengajak anak lebih mengenal dunia melalui cerita. Di dalam dongeng kita bisa menyampaikan pesan moral yang mudah dipahami anak. Mereka menjadi lebih tenang dan lebih mampu mengelola emosi. Ini berbeda dengan gawai yang membuat mereka larut dalam dunia mereka sendiri,” ujar Maia saat mengisi Program Mobil Dukungan Psikososial oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) di lokasi pengungsian Akademi Maritim Sapta Samudra, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang, Jumat (5/12/2025).
Pada kegiatan yang dihadiri sekitar 120 anak yang terdampak bencana di Sumbar, Maia membagikan pengalaman sebelumnya saat mendampingi anak-anak korban banjir. Dikatakannya bahwa anak-anak tersebut memiliki cara unik dalam memaknai kehilangan, misalnya menganggap barang yang hilang sebagai bagian penting dari identitas diri atau status sosial, yang dipengaruhi lingkungan dan budaya belanja daring.
“Saat kita hadir dan berinteraksi, kita dapat membantu membentuk karakter mereka. Bukan untuk menyalahkan, tetapi mengarahkan agar memahami cara pandang yang lebih baik,” katanya.
Keterlibatan aktif orang tua juga menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan emosional anak, terutama pascabencana.
“Jika anak bermain gawai seharian, mereka cenderung tantrum dan emosional. Namun ketika diajak berdongeng atau bercerita, mereka lebih tenang dan realistis,” ujarnya.
Ia mengingatkan risiko permainan digital yang bisa memicu agresivitas. Sedangkan dongeng membuka ruang imajinasi sehat dan melatih kemampuan berpikir anak. Maka orang tua diharap untuk lebih kreatif, seperti menggunakan media pendukung cerita atau memberikan hadiah kecil agar anak semakin antusias.
Dalam pendampingannya, Maia menemukan bahwa sejumlah anak korban banjir masih merasa takut ketika hujan turun atau mengingat peristiwa sebelumnya.
“Setelah mendengarkan cerita, mereka tampak lebih tenang. Dongeng menjadi salah satu bentuk terapi yang membantu anak mengurangi kecemasan,” ujarnya.
Program Mobil Dukungan Psikososial Kemkomdigi sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Regulasi tersebut bertujuan melindungi anak dari konten negatif di ruang digital seperti media sosial dan permainan daring (game online). PP Tunas pun mengatur akses digital berdasarkan usia, kewajiban platform menyediakan filter usia, serta perlunya persetujuan orang tua.
Kombinasi edukasi literasi dan pelindungan digital melalui PP Tunas diharapkan menjadi perisai agar anak tetap bisa tumbuh tanpa menjadi korban di ruang digital. (*/mn)







