Festival Gandrung Banyuwangi Diikuti 1500 Peserta

BANYUWANGI, Netizens.id – Dalam rangka pelestarian dan promosi berkelanjutan Tari Gandrung, Banyuwangi menyelenggarakan kompetisi Tari Gandrung melalui Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Bali turut ambil bagian dalam kompetisi ini.
Berlangsung tiga hari dari 24-26 Desember di Gelanggang Kesenian Banyuwangi (Gesibu), Festival Tari Gandrung “Dari Masa ke Masa” diikuti 1500 peserta dari berbagai tingkatan mulai TK-SMA dan umum. Peserta berasal dari berbagai daerah seperti Jogja, Gresik, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, hingga Bali.
Sabar Haryanto, inisiator sekaligus penyelenggara Festival Gandrung “Dari Masa ke Masa”, menyampaikan bahwa ini merupakan penyelenggaraan tahun ketiga. Setiap tahunnya ribuan peserta turut berpartisipasi dalam lomba ini.
Sabar yang juga Pengasuh Sangar Tari Lang Lang Buana Banyuwangi mengatakan, “Sebagai pegiat seni daerah ini adalah bentuk dukungan dan partisipasi kami bersama-sama dengan pemerintah untuk terus menghidupkan dan melestarikan Gandrung khususnya pada generasi muda.”
Tahun ini pihaknya secara khusus mengundang sanggar dan komunitas Tari dari sejumlah daerah untuk turut berpartisipasi karena Tari Gandrung sudah banyak ditarikan oleh penari di luar daerah.
“Alhamdulillah peserta lomba dari luar kota cukup banyak, padahal kami hanya berkabar melalui surat. Ini menunjukkan kalau Tari Gandrung memang sudah familiar bagi mereka,” ucapnya.
Delapan variasi tari Gandrung dibawakan oleh para peserta dalam kompetisi tersebut, yakni Gandrung Seblang Lukinto, Gandrung Gurit Mangir, Gandrung Jaran Dawuk, Gandrung Variasi, Gandrung Sri Dewi, Gandrung Kembang Menur, Gandrung Marsan.
Sabar menerangkan, “Kompetisi ini juga sebagai cara mengenalkan berbagai jenis atau variasi Tarian Gandrung. Karena Tari Gandrung punya banyak variasi yang berkembang sesuai konteks budaya, cerita rakyat, maupun kreativitas seniman.”
Nasseh, salah satu pelatih Tari dari Lumajang, menyatakan ia menurunkan dua grup untuk mengikuti kompetisi di Banyuwangi. Tari Gandrung telah menjadi tarian yang biasa ditarikan di komunitasnya.
“Kami berlatih khusus untuk kompetisi mulai November. Tapi tidak terlalu kesulitan karena teman-teman sudah mengenal Gandrung,” katanya.
Sementara itu, Ikrom, salah satu penarinya yang merupakan pelajar kelas 9 SMPN 1 Tempeh Lumajang mengaku sangat senang bisa mengikuti Lomba Tari Gandrung di Banyuwangi. Dengan basic penari berbagai genre, ia tidak begitu kesulitan untuk menari Gandrung.
Ikrom yang membawakan Tari Gandrung Marsan atau Tari Gandrung yang khusus dibawakan oleh laki-laki mengatakan, “Gerakannya susah-susah gampang saat latihan, tapi bersyukur bisa, dan masuk final.”(Az)







