Karhutla Capai 329 Kejadian, Arif Kurniawan Ajak Samarinda Gelar Salat Istisqa
SAMARINDA — Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) semakin memprihatinkan. Melonjaknya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendorong Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Samarinda yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi III, Arif Kurniawan, mendesak Pemerintah Kota Samarinda bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk segera menggelar salat istisqa.

Ajakan ini disampaikan sebagai bentuk ikhtiar memohon turunnya hujan, di tengah ancaman kekeringan ekstrem yang kian meluas di berbagai daerah Kaltim, Sabtu (22/8/2026).
“Salat istisqa ini bagian dari ikhtiar kita sebagai umat Islam. Ketika kondisi alam mulai kering dan hujan belum turun, kita perlu bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan,” ujar Arif.
Desakan pelaksanaan salat minta hujan ini bukan tanpa dasar. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim per 18 Agustus 2026 mencatat angka yang cukup mengkhawatirkan, yaitu sebanyak 329 kejadian karhutla telah terjadi di wilayah ini. Yang lebih memprihatinkan, 134 di antaranya terjadi hanya dalam dua pekan pertama bulan Agustus.
Sementara itu, data kumulatif hingga 11 Agustus 2026 mencatat luas area terdampak kebakaran telah mencapai 1.287,93 hektare, dengan rincian 831,50 hektare kawasan hutan, 443,62 hektare lahan terbuka, serta 12,81 hektare area perkebunan.
Di tengah ancaman fenomena El Niño yang diperkirakan memperpanjang musim kemarau, Arif berharap pelaksanaan salat istisqa tidak hanya dilakukan di Kota Samarinda, tetapi juga diikuti oleh seluruh pemerintah kabupaten/kota se-Kaltim.
“Harapan saya bukan hanya Samarinda. Kalau memungkinkan, seluruh pemerintah daerah di Kalimantan Timur bersama MUI dan masyarakat bisa melaksanakan salat istisqa. Ini menjadi ikhtiar kita bersama,” tegasnya.
Meski menekankan pentingnya pendekatan spiritual melalui doa bersama dan salat istisqa, politisi PKS ini juga mengingatkan agar langkah tersebut tetap dibarengi dengan upaya mitigasi nyata di lapangan. Pemerintah diminta memperkuat pengawasan, sementara masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Doa harus disertai ikhtiar. Kita memohon hujan kepada Allah, tetapi kita juga punya kewajiban menjaga lingkungan, tidak membakar lahan, mengurangi kerusakan hutan dan menjaga sumber air,” pesannya.
Di akhir pernyataannya, Arif mengajak seluruh masyarakat Kaltim untuk memperbanyak istighfar, mempererat solidaritas sosial, serta meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan di tengah situasi darurat kekeringan yang tengah berlangsung. (*/mn)







