AdvertorialKominfo

Jalan Penghubung Antardesa di Muara Bengkal Rawan Terendam, Peningkatan Disebut Masuk Lelang

KUTAI TIMUR – Akses jalan penghubung antardesa di Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, khususnya di kawasan Desa Senambah, menghadapi persoalan saat musim hujan. Sejumlah ruas jalan yang berada di sekitar sempadan sungai disebut rawan tergenang ketika debit air meningkat.

Plt Sekretaris Camat Muara Bengkal, Ahyar.

Plt Sekretaris Camat Muara Bengkal, Ahyar, mengatakan kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang membuat akses jalan di kawasan tersebut rentan terdampak luapan sungai.

“Kebanyakan jalan di Senambah itu di pinggiran sungai, pinggiran sempadan sungai. Kalau banjir, sungai naik ke jalan,” ujar Ahyar.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat mengganggu mobilitas masyarakat, terutama ketika curah hujan tinggi dan permukaan air sungai mengalami kenaikan. Persoalan akses jalan menjadi penting karena jalur tersebut digunakan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari serta mobilitas antardesa. Upaya perbaikan sebelumnya juga sempat dilakukan di tingkat desa. Ahyar menyebut, kepala desa setempat pernah berinisiatif meninggikan badan jalan dengan dukungan perusahaan perkebunan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.

Namun, perbaikan secara swadaya dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur secara menyeluruh. Pemerintah kecamatan berharap peningkatan jalan melalui program pemerintah kabupaten dapat memberikan perbaikan yang lebih permanen. Ahyar menyebut berdasarkan informasi yang diterimanya, proyek peningkatan jalan penghubung antardesa di kawasan Senambah pada tahun ini telah masuk proses lelang melalui sistem pengadaan pemerintah.
“Mudah-mudahan ada sedikit perbaikan jalan,” katanya.

Perhatian terhadap infrastruktur Muara Bengkal juga sejalan dengan kebijakan Pemkab Kutim yang sebelumnya menyatakan pembangunan infrastruktur, termasuk sejumlah ruas jalan di wilayah tersebut, menjadi prioritas. Pemkab menargetkan sejumlah pekerjaan infrastruktur mulai dikerjakan pada 2026 dengan skema multiyears.

Masyarakat berharap peningkatan jalan tidak hanya menyelesaikan persoalan genangan sementara, tetapi juga memperkuat ketahanan badan jalan sehingga akses antardesa tetap dapat digunakan ketika musim hujan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button