Ketersediaan Tenaga Kesehatan di Kutai Timur: Tantangan dan Upaya Solusi

KUTAI TIMUR, Netizens.id – Ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai merupakan salah satu pilar utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Bahrani, mengungkapkan bahwa terdapat kekurangan tenaga kesehatan di wilayah ini, terutama pada sembilan profesi yang dianggap kritis, seperti dokter spesialis gizi, tenaga kesehatan lingkungan, dan bidan terlatih. “Secara kuantitas, kita memang masih kekurangan tenaga kesehatan. Namun, hal ini kita akali dengan meningkatkan kualitas melalui pelatihan dan pemberdayaan tenaga yang ada,” ujarnya.
Untuk mengatasi kekurangan ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bekerja sama dengan Universitas Mulawarman (Unmul) dalam program beasiswa. Setiap tahun, dua putra-putri terbaik dari Kutai Timur dikirim untuk menempuh pendidikan dokter umum, dokter gigi, farmasi, dan keperawatan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah tenaga kesehatan yang nantinya akan ditempatkan kembali di wilayah Kutai Timur.
Selain itu, tenaga kesehatan yang sudah ada diberikan pelatihan khusus, seperti pelatihan antenatal care bagi bidan. Pelatihan ini bertujuan agar mereka mampu mendeteksi risiko kesehatan pada ibu hamil sejak dini. “Kami terus melatih tenaga kesehatan, termasuk bidan dan perawat, agar mereka lebih kompeten dalam menangani dan mencegah masalah kesehatan di lapangan,” kata Bahrani.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam pendistribusian tenaga kesehatan ke wilayah terpencil. Kutai Timur memiliki geografis yang luas dengan beberapa daerah sulit dijangkau. Untuk itu, pemerintah mengharapkan tenaga kesehatan yang telah menerima beasiswa dapat kembali mengabdi di wilayah asal sesuai perjanjian yang dibuat sebelum pendidikan.
Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan di Kutai Timur dapat meningkat secara signifikan. Meskipun tantangan masih besar, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga kesehatan agar seluruh masyarakat Kutai Timur dapat menerima layanan kesehatan yang optimal,” pungkas Bahrani. (Adv-Kominfo/Ty)







