Menjelang HUT RI ke-80, Penjualan Bendera Merah Putih Lesu di Kutai Timur

KUTAI TIMUR (Netizens.id) – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, para pedagang musiman bendera di Kutai Timur mulai mengeluhkan sepinya pembeli. Salah satu pedagang asal Garut, Jawa Barat, Dede, menyebut tahun ini menjadi masa terberat sejak ia berdagang bendera di Sangatta.
“Kalau tahun lalu saya bisa menjual sampai 20 kodi umbul-umbul, sekarang belum sampai satu kodi,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Sabtu (3/8/2025) siang.
Satu kodi setara dengan 20 lembar. Menurut Dede, pada tahun sebelumnya ia mampu mengantongi keuntungan bersih hingga Rp9 juta. Namun, sejak mulai berjualan pada 22 Juli hingga awal Agustus ini, pendapatan yang terkumpul baru sekitar Rp1 juta.
Barang dagangan yang paling banyak diminati masih berupa bendera merah putih dan umbul-umbul panjang, dengan harga bervariasi antara Rp40.000 hingga Rp60.000 tergantung jenis dan ukuran. Meski begitu, daya beli masyarakat dinilai menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya tanggal 5 Agustus ke atas sudah mulai ramai. Tapi sekarang belum terlihat ada peningkatan,” katanya.
Dede merupakan bagian dari rombongan besar pedagang asal Garut yang setiap tahunnya menjajakan bendera di berbagai kecamatan di Kutim, seperti Wahau, Bengalon, dan Sangatta. Di Sangatta sendiri, terdapat sekitar 10 orang pedagang dari rombongan tersebut. Mereka menjual produk hasil produksi dari Garut dan mengambil keuntungan dari sistem komisi per penjualan.
Meskipun biaya perjalanan ditanggung secara mandiri, Dede tetap memilih berdagang di Kutim karena sebelumnya daerah ini dianggap sebagai pasar yang menjanjikan. “Kalau sudah lewat tanggal 17 Agustus, kami pulang. Sekarang tinggal berharap penjualan naik beberapa hari ke depan,” ucapnya.
Hal senada disampaikan oleh Nanang Kariana, pedagang bendera lainnya. Ia mengatakan bahwa tahun ini adalah yang terberat sejak ia mulai berjualan pada 2010. “Tahun lalu saya masih bisa dapat Rp5 juta sampai Rp8 juta setiap kali ke sini,” ungkapnya.
Nanang menilai lesunya penjualan disebabkan oleh meningkatnya jumlah pedagang, masih adanya stok bendera lama di rumah warga, serta persaingan dengan toko daring (online). “Dulu orang dari Rantau Pulung dan Bengalon masih beli ke sini. Sekarang di sana sudah banyak yang jual juga,” jelasnya.
Menariknya, Nanang mengaku sempat kaget ketika beberapa anak muda menanyakan bendera bergambar karakter anime One Piece. Namun ia memilih untuk tidak menjual produk tersebut karena khawatir akan dampak hukum atau pelanggaran hak cipta. “Saya takut bermasalah, jadi saya tidak berani jual,” pungkasnya.(Rh)







