Sego Cawuk Tradisi Suku Osing yang Bikin Ketagihan di Banyuwangi

BANYUWANGI (Netizens.id) – Kunjungan ke Banyuwangi terasa belum sempurna tanpa mencicipi kuliner khas untuk sarapan yang bernama Sego Cawuk.
Sego yang bermakna nasi dan cawuk yang bermakna makan menggunakan tangan. Sego Cawuk atau biasa dikenal dengan sego janganan merupakan hidangan sarapan bagi masyarakat Suku Osing karena memang sajian ini hanya tersedia pada waktu pagi hari.
Rudi, salah satu penggemar sego cawuk Banyuwangi menyebutkan, hampir setiap pagi dirinya sarapan dengan sego cawuk tersebut. Tidak hanya lezat untuk sarapan, tetapi sego cawuk juga dipasarkan dengan harga yang cukup terjangkau.
“Istri saya setiap pagi beli sego cawuk untuk sarapan,” terang Rudi.
Rudi melanjutkan, di Banyuwangi tidak sulit untuk mencari penjual sego yang hanya ada di Banyuwangi ini. Sebab, sepanjang jalan di Banyuwangi setiap pagi banyak diperdagangkan sego cawuk tersebut.
“Banyak yang jual kalau pagi. Bahkan sampai anti-antri,” terang warga kelurahan mojopanggung tersebut.
Hal serupa juga diungkapkan Yudis, warga Surabaya yang setiap seminggu sekali ke Banyuwangi tidak lupa untuk sarapan sego cawuk. Menurutnya selain harganya yang murah, juga memiliki rasa yang unik.
“Rasanya cocok untuk di masan pagi untuk sarapan,” ujarnya.
Salah satu warung penjual Sego Cawuk favorit masyarakat Banyuwangi adalah warung Sego Cawuk Bu Sri yang berlokasi di Jalan Kyai Saleh No. 14, Kelurahan Kepatihan, Banyuwangi, Jawa Timur.
Sego Cawuk Bu Sri sudah beroperasi sejak tahun 1993. Brand warung sendiri merupakan nama dari pemiliknya yaitu Sri Lati. Namun, warung tersebut saat ini diteruskan oleh menantunya yang bernama Yuni. Dikarenakan Bu Sri sendiri telah wafat pada tahun 2020 lalu.
Meskipun dilanjutkan oleh menantunya, Warung Sego Cawuk Bu Sri masih diminati oleh para pelanggannya. Sebab, Yuni sang menantu tetap menjaga dan mempertahankan resep dari sang mertua tercinta.
Warung makan Sego Cawuk Bu Sri beroperasi mulai pukul 05.30 WIB sampai 10.00 WIB. Akan tetapi, dengan ramainya pengunjung, tak jarang kuliner yang diperdagangkan habis sebelum waktunya.
Seporsi Sego Cawuk berisi terancam (kuah santan cair yang berisi timun, jagung bakar, parutan kelapa), cocoh tahu alias sayur tahu, pepes ikan tuna, telur pindang, kuah pindang, gecok teri (parutan kelapa dicampur dengan ikan teri asin) dan kerupuk.
Namun, yang membuat Sego Cawuk Bu Sri berbeda dengan yang lain adalah adanya tambahan sambal sereh blimbing wuluh dicampur dengan sambal pecel dan ditambah semanggi.
Bagaimana? Apakah kalian sudah mulai membayangkan rasanya? Semakin unik dan khas bukan?
Walaupun tampak aneh, perpaduan rasa manis dari kuah pindang, rasa asin dari teri asin dan cocoh tahu, gurih dari kuah terancam parutan kelapa, kecut serta pedas dari sambal sereh blimbing wuluh.
Semua ini menjadikan satu kesatuan kompleks, ketika dimasukkan ke dalam mulut mampu memanjakan lidah siapapun yang menyantap sedapnya Sego Cawuk.
Yuni (35), penjual sego cawuk Bu Sri, menyampaikan, sambal sereh blimbing wuluh dan semanggi menjadi ciri khas Sego Cawuk Bu Sri yang mungkin tidak ada di tempat lain. “Seporsi Sego Cawuk dengan isian komplit hanya Rp10.000,” kata Yuni. (*)



