DPPKB Kutim Gandeng Pakar, Sosialisasikan Pencegahan Stunting pada Anak dengan HIV/AIDS
KUTAI TIMUR, Netizens.id – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperluas upaya pencegahan stunting dengan menggandeng sejumlah pakar. Salah satu fokusnya adalah pencegahan stunting pada anak yang terindikasi mengidap HIV/AIDS.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menjelaskan bahwa anak dengan HIV/AIDS memiliki risiko lebih besar mengalami stunting dibandingkan anak lain. Hal ini disebabkan lemahnya sistem kekebalan tubuh akibat penyakit tersebut.
“Anak-anak dengan HIV/AIDS memang lebih berisiko mengalami stunting karena penyakit ini melemahkan kekebalan tubuh,” ujarnya di Sangatta, Senin (1/9/2025).
Sebagai langkah konkret, DPPKB Kutim menggelar seminar dan sosialisasi dengan melibatkan tim pakar dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutai Timur serta Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutim. Melalui kegiatan ini, masyarakat diberikan pemahaman mengenai kaitan erat antara HIV/AIDS dengan stunting.
Junaidi juga menyampaikan bahwa pihaknya memanfaatkan podcast “Bangga Kencana” milik DPPKB Kutim sebagai media edukasi. Dalam program tersebut, para pakar diberi ruang untuk menjelaskan secara detail tentang dampak HIV/AIDS terhadap tumbuh kembang anak.
“Kami hanya melakukan pencegahan melalui program-program yang sudah kami jalankan. Harapannya, masyarakat yang terindikasi HIV/AIDS bisa segera melaporkan diri, sehingga penanganan terhadap anak-anak yang lahir dapat dilakukan lebih cepat,” tambahnya.
Sementara itu, Tim Pakar IDI Kutim, dr. Meitha Togas, menegaskan HIV/AIDS memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang generasi penerus. Menurutnya, HIV/AIDS dan stunting adalah dua masalah serius yang saling berkaitan.
“HIV/AIDS sangat memengaruhi daya tahan tubuh. Anak yang terinfeksi HIV/AIDS berisiko tinggi mengalami stunting. Karena itu perlu penanganan terpadu, mulai dari terapi antiretroviral (ART), manajemen gizi, hingga deteksi dini,” jelasnya.
Dr. Meitha menambahkan, peran orang tua sangat penting. Mereka diminta proaktif melaporkan diri agar anak bisa segera diperiksa. “Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Jika sejak awal terdeteksi, maka penanganannya akan lebih maksimal,” pungkasnya.(Ty)







