Kutai TimurPemerintahanPeristiwa Daerah

Bupati Kutai Timur Komit Tuntas Rehabilitasi 55 Unit Rumah Korban Banjir 2022

KUTAI TIMUR, Netizens.id – Komitmen penuntasan program rehabilitasi rumah korban banjir 2022 di Kabupaten Kutai Timur ditegaskan Bupati Ardiansyah Sulaiman pada tahun 2025. Dari 91 unit rumah yang ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) Bupati, hingga saat ini baru 36 unit yang berhasil direhabilitasi, menyisakan 55 unit yang mengalami keterlambatan signifikan sejak program dicanangkan.

Program rehabilitasi yang dibiayai dari alokasi APBD murni sebesar Rp 2 miliar dan dianggarkan pada tahun 2023 ini menghadapi berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Meskipun demikian, Bupati Ardiansyah menjamin penyelesaian sisa rehabilitasi pada tahun ini.

Untuk korban banjir yang belum terakomodir dalam 91 unit tersebut, Bupati Ardiansyah menjelaskan akan diintegrasikan ke dalam program pembangunan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan pemukiman kumuh.

“Mudah-mudahan itu nanti masuk di dalam program yang sudah kita rencanakan. Kita sudah punya dua pertimbangan, pertama pemukiman kumuh, kedua pembangunan rumah masyarakat berpenghasilan rendah. Itu yang 1.000 rumah yang akan dibangun,” ujar Ardiansyah, Selasa (2/9/2025).

Program pembangunan 1.000 unit rumah tersebut akan dimulai dengan 200 unit pada tahun 2025 dan telah masuk dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda). Selain itu, pemerintah daerah juga akan melaksanakan program bedah rumah untuk mengatasi masalah perumahan masyarakat.

Asisten II Pemkab Kutim, Noviari Noor, mengidentifikasi kendala utama program ini terletak pada proses pendataan dan verifikasi korban terdampak. “Itu sekali lagi mungkin terkait dengan pendataan ya. Jadi bisa nanti diverifikasi ulang yang terdampak kemarin dan kemudian tingkat kerusakan. Itu memang panjang prosesnya,” ujar Noviari, Sabtu (30/8/2025).

Kompleksitas kerusakan rumah menjadi faktor yang memperlambat proses rehabilitasi. Tingkat kerusakan yang beragam, mulai dari rumah beton hingga rumah kayu, memerlukan penanganan yang berbeda-beda sehingga tidak dapat disamaratakan.

“Jadi tidak bisa disamaratakan, ada yang rumah beton, ada yang rumah kayu. Itu yang kendala-kendala itu di situ. Jadi, secara teknis mungkin Perkim yang lebih tahu,” jelasnya saat ditemui dalam sesi kegiatan Gerakan Pangan Murah yang dilaksanakan di Folder Ilham Maulana.

Kabid Perumahan Swadaya Dinas Perkim Kutim, Taufik Hidayat, menjelaskan bahwa SK Bupati sebagai dasar pelaksanaan program ini diterbitkan pada 13 Mei 2024, sementara SK penetapan penerima bantuan dari Kepala BPBD diterbitkan pada 3 Juni 2024.

“Yang sudah terealisasi 36 unit, sisanya yang 55 unit akan kita kerjakan tahun ini,” ujar Taufik Hidayat saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (29/8/2025).

Lokasi rehabilitasi yang telah diselesaikan tersebar di dua wilayah, yakni Loa Hitam di Desa Persiapan Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, dan Pinang Dalam yang berada di Kecamatan Sangatta Utara. Besaran bantuan bervariasi tergantung tingkat kerusakan rumah masing-masing penerima.

Proses penetapan penerima bantuan dimulai dari pendataan korban banjir yang mencapai sekitar 900 warga. Setelah melalui verifikasi tim BPBD, jumlah tersebut berkurang drastis menjadi 91 unit rumah karena banyak laporan yang ternyata berkaitan dengan kerusakan perabotan rumah tangga, bukan kerusakan struktur rumah.

“Yang 900 itu semuanya korban banjir, ada yang minta sembako dan bantuan lainnya. Setelah diverifikasi, yang benar-benar kerusakan rumahnya hanya 91 unit,” jelasnya.

Untuk wilayah yang belum tercover dalam program rehabilitasi korban banjir 2022, Dinas Perkim melakukan kolaborasi dengan program-program lain seperti Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), program Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dan program rehabilitasi dari tingkat provinsi yang menyediakan 100 unit untuk Sangatta Selatan dan Sangatta Utara tahun ini.

Terkait wacana relokasi warga bantaran sungai yang sering terdampak banjir, Taufik mengaku program ini masih dalam tahap perencanaan awal dengan tiga opsi lokasi yang sedang dipertimbangkan. Kendala utama adalah sosialisasi kepada masyarakat dan ketersediaan lahan.

“Masih baru perencanaan. Kita masih mencari opsi tanah penggantinya di mana, nanti harus dibicarakan cocoknya di mana. Tapi masih belum bisa berjalan di tahun ini,” ungkapnya. (Q)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button