Peristiwa Daerah

Truk Logistik Jadi Biang Kemacetan 37 Km Menuju Gilimanuk

BANYUWANGI, Netizens.id – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menuding truk logistik sebagai salah satu penyebab utama kemacetan parah di jalan menuju Pelabuhan Gilimanuk yang terjadi selama beberapa hari dalam momen arus mudik.

Kesimpulan itu ia sampaikan setelah menggelar rapat koordinasi lintas pemangku kepentingan di Pelabuhan Gilimanuk, Selasa (17/3/2026).

“Jadi penyebab kemacetan yang terjadi adalah masih beroperasinya truk sumbu tiga ke atas yang mengangkut logistik,” kata Dudy.

Padahal dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri, pemerintah telah membatasi operasional truk sumbu tiga ke atas selama periode angkutan Lebaran Idul Fitri. Pembatasan ini berlaku khususnya di lintasan Jawa–Bali–Lombok, mengingat Lebaran kali ini berbarengan dengan Hari Raya Nyepi. Menjelang Nyepi, lintasan Ketapang–Gilimanuk maupun Padangbai–Lembar akan ditutup sekitar 37 jam pada 18–20 Maret.

Atas kondisi itu, Dudy meminta para pengusaha logistik untuk mematuhi ketentuan SKB dan memahami situasi yang tengah terjadi. Ia menegaskan bahwa selama arus mudik di lintasan tersebut, pemerintah memprioritaskan kendaraan kecil dan bus.

“Kami tadi jelaskan prioritasnya adalah kendaraan kecil dan bus, karena penumpang kami prioritaskan. Kami meminta kepatuhan pengusaha logistik, terutama kendaraan sumbu tiga ke atas, sesuai SKB yang telah diterbitkan,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah tetap menyiapkan solusi bagi kendaraan logistik yang terlanjur berada di jalur saat Nyepi berlangsung. Truk-truk tersebut akan diarahkan ke buffer zone, sementara para sopirnya akan diseberangkan ke Banyuwangi dan dikembalikan ke Bali setelah Nyepi berakhir, tanpa dikenakan biaya.

“Sopirnya akan kami seberangkan ke Banyuwangi, apabila nyepi sudah berakhir akan kami kembalikan lagi ke Bali, tanpa biaya,” jelasnya.

Dudy menyampaikan bahwa kondisi arus lalu lintas menuju Pelabuhan Gilimanuk kini sudah mulai membaik. Sebelumnya sempat terjadi kemacetan parah hingga 37 kilometer, namun berkat penerapan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB), kepadatan berangsur terurai.

“Hasilnya sudah ada pengurangan jumlah kepadatan dari semula 20 km lebih, sekarang menjadi 8 km, dengan langkah itu harapannya sebelum penutupan nyepi kepadatan bisa diurai,” tandasnya.(Az)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button