Budaya

Resensi Buku

Memori Perempuan - Berjuang Melawan Tiran

Sebuah buku krusial diluncurkan pada 8 Maret 2024, merekam kesaksian 43 perempuan aktivis tentang masa muda mereka di zaman bergerak hingga kini. Perjuangan mereka melawan tiran adalah perjuangan suci bersama untuk mewujudkan hari esok yang lebih baik bagi orang-orang biasa, kaum yang tertindas dan tak berpunya. Mereka menuntut kebebasan bersuara dan berorganisasi demi terwujudnya keadilan, kemanusiaan, dan demokrasi. Perjuangan itu mendapatkan kemenangan dan juga kekalahan.

Buku ini adalah buku penting pertama dalam sejarah Indonesia yang merekam pengalaman dan peran perempuan aktivis dari era Orde Baru hingga kegagalan reformasi. Kesaksian-kesaksian mereka adalah sumber primer dalam sejarah, yang menunjukkan bahwa perubahan besar sosial dan politik mustahil terjadi tanpa peran aktif perempuan.

Pengalaman-pengalaman mereka membuktikan bahwa pengorganisasian adalah syarat mutlak bagi perjuangan mewujudkan perubahan. Dari kesaksian Henny Vidiarina selama belajar di Filipina, kita mengetahui bagaimana Gabriella, sebuah organisasi perempuan perlawanan di masa rezim despotik Marcos, telah berhasil bertransformasi menjadi partai politik hingga ikut Pemilu. Namun, para perempuan aktivis dalam buku ini tak hanya menjalani tanggung jawab yang diberikan organisasi perjuangannya, melainkan juga menghadapi budaya patriarki yang menghantui dan mengancam umat manusia di muka bumi. Kesaksian Ulinawati Sembiring membuat kita mengetahui bahwa tiga generasi perempuan dalam keluarganya menjadi korban patriarki.

Kesadaran untuk berjuang pada perempuan aktivis juga tumbuh dalam keluarga yang membesarkan anak-anaknya secara egaliter dan peduli pada sesama, seperti dalam kesaksian Nor Hiqmah. Kesadaran itu juga tumbuh dari pengetahuan dan buku. Setelah membaca buku “Catatan Harian Seorang Demonstran” Soe Hok Gie ketika SMA, Fransisca Ria Susanti ingin aktif dalam gerakan demokrasi. Kesadaran itu juga mengakar pada memori masa kecil. Menyaksikan ibu-ibu desa yang mengantre di depan kantor pegadaian untuk menggadaikan piring dan kain agar anak-anaknya bisa sekolah membuat hati Lilik HS yang masih kanak-kanak terenyuh dan bercita-cita agar pemandangan seperti itu tak ada lagi suatu hari. Kesadaran itu juga dipupuk dari pengasuhan orang tua yang mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan. Ketika masih belajar di SMA, Ernawati rutin mengikuti diskusi-diskusi yang diadakan kelompok perempuan kritis. Ternyata cinta semata pun bisa menuntun orang mengalahkan rasa takut dan ego. Ratri mengambil risiko untuk membantu kekasihnya dan kawan-kawannya yang dipenjarakan rezim Orde Baru hingga terlibat aksi melawan rezim.

Bagaimana jika seorang anak perempuan harus berhadapan dengan ayah kandungnya? Eva Bande dan kawan-kawannya yang memperjuangkan hak-hak petani dihadang sepasukan polisi. Komandan pasukan itu ayahnya sendiri. Ada pula perempuan aktivis berayahkan tentara yang berharap anaknya masuk Kowad, karena tak sanggup membiayai kuliah dari gaji kecil pangkatnya yang rendah. Semua itu dialektika dalam memperjuangkan perubahan besar bagi masyarakat.

Beberapa di antara perempuan aktivis ini mengalami trauma fisik maupun psikis akibat kekerasan domestik, kekerasan seksual, keputusan elite partai, atau penyakit mematikan, dan bangkit kembali. Mereka perempuan tangguh.

Usia mereka rata-rata setengah abad, sehingga buku ini menjadi warisan dini untuk para pembacanya dari generasi ke generasi.

Kesaksian-kesaksian penting yang lain? Jika isi buku diceritakan semua, maka kalian tidak akan cepat-cepat membeli buku penting ini.

Perempuan-perempuan Indonesia melalui kesaksian-kesaksian perempuan aktivis ini adalah para perempuan pembentuk peradaban.

Prolog buku yang tajam dan brilian ditulis oleh Ruth I Rahayu dan epilog yang indah dan kritis ditulis oleh Agung Putri.

Buku “Memori Perempuan: Berjuang Melawan Tiran” lahir dari gagasan Nor Hiqmah, Nuraini Hilir, Susi Ivvaty, dan Husni Munir, yang direalisasikan sejumlah kawan mereka yang namanya tak dapat disebutkan satu per satu.

Dana dikumpulkan dari pengorbanan kawan-kawan yang merogoh sakunya sendiri demi menghadirkan buku ini sebagai sumber primer dalam sejarah, antara lain Nezar Patria, Faisol Riza, Andi Arief, Hilmar Farid, Eko Sulistyo, dan Ari Sujito. Kalyanamitra, sebuah organisasi perempuan di Jakarta, telah merelakan tempatnya menjadi lokasi pemotretan.

Tebal buku 306 halaman, dengan kertas licin dan berwarna, harga Rp 200 ribu.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button