Peristiwa Daerah

Dua Kawasan Agrowisata di Kutai Timur Aktif Beroperasi, Teluk Pandan Catat 850 Pengunjung

KUTAI TIMUR (Netizens.id) – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur gencar mengembangkan sektor agrowisata sebagai upaya alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan. Sampai dengan pertengahan tahun 2025, telah ada dua lokasi agrowisata yang beroperasi secara aktif, yaitu Sawah Buanasari yang berada di Desa Bumi Rapak Kecamatan Kaubun dan kawasan Teluk Pandan.

Dyah Ratnaningrum selaku Kepala DTPHP Kutim menjelaskan bahwa program pengembangan agrowisata ini tidak semata-mata mengandalkan hasil komoditas pertanian saja, melainkan juga mengedepankan kolaborasi serta potensi kekuatan lokal yang dimiliki masyarakat.

‎“Kami hanya memfasilitasi. Yang menjalankan adalah desa, Pokdarwis, kelompok tani, dan stakeholder lainnya. Ini kerja bersama,” kata Dyah ketika diwawancarai di hadapan Auditorium Polres Kutim, Senin, 4 Agustus 2025.

Menurut Dyah, kawasan agrowisata Teluk Pandan merupakan salah satu yang mengalami perkembangan paling pesat. Sejak peresmiannya pada pertengahan tahun 2024, lokasi tersebut telah menerima kunjungan sekitar 850 wisatawan hingga penghujung tahun. Beragam fasilitas telah tersedia mulai dari layanan penyewaan sepeda, otopet, area foto, sampai saung-saung yang dikelola oleh kelompok tani dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Sebagai daya tarik tambahan, setiap akhir pekan secara rutin diselenggarakan bazar kuliner tradisional yang semakin memperkuat potensi wisata lokal.

‎“Kegiatan di Teluk Pandan sangat hidup. Pengelolaan sudah berjalan baik dan mulai menghasilkan pendapatan bagi kelompok tani dan Pokdarwis. Tinggal penguatan manajemen ke depan agar keberlanjutan tetap terjaga,” ungkapnya.

Di sisi lain, kawasan agrowisata Desa Kaubun dikembangkan dengan nuansa budaya Bali mengingat mayoritas pengelolanya adalah warga keturunan Bali. Area foto, saung, serta ukiran yang dipajang mengusung konsep khas pulau Dewata tersebut.

‎“Konsepnya memang Bali banget. Bahkan saung tani di sana juga permanen dan bisa digunakan untuk pertemuan maupun pelatihan petani,” jelas Dyah.

Dyah menambahkan bahwa peluang pengembangan agrowisata di wilayah Kutim masih sangat terbuka lebar. Bupati Kutim bahkan telah memberikan arahan agar kawasan Disekerat turut dipertimbangkan sebagai kandidat lokasi agrowisata yang baru.

‎“Kalau Teluk Pandan sudah jalan, Disekerat akan kami lihat potensi dan kesiapan kelompok taninya,” imbuhnya.

Saat ini, komoditas padi menjadi basis utama dari pengembangan agrowisata. Namun Dyah yakin ke depannya dapat meluas sesuai dengan keinginan masyarakat, misalnya agrowisata berbasis buah-buahan dan sayuran.

‎“Kami tidak ingin memaksakan. Harus datang dari niat kelompok tani itu sendiri. Kalau tidak ada kemauan dari mereka, ya sulit untuk jalan,” jelasnya.

Berkaitan dengan kesadaran masyarakat, Dyah merasa optimis karena kedua desa yang dijadikan lokasi percontohan memperlihatkan antusiasme yang tinggi. Pemerintah desa juga dinilai aktif dalam memberikan dukungan dan terlibat langsung dalam pengelolaan.

‎“Baik di Koubun maupun Teluk Pandan, kepala desa masing-masing sangat mendukung. Antusiasme warga juga tinggi. Harapannya ini bisa direplikasi di wilayah lain dengan menyesuaikan potensi dan kearifan lokal masing-masing,” pungkasnya. (RH)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button