Kadis Sosial Kutim Klarifikasi Dugaan Penelantaran ODGJ: Ini Kendala Teknis, Bukan Penelantaran

KUTAI TIMUR (Netizens.id) – Kepala Dinas Sosial Kutai Timur, Ernata, memberikan klarifikasi atas pemberitaan dugaan penelantaran Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sempat viral di media sosial. Dalam konferensi pers, Kamis (22/5/2025), Ernata menyebut insiden yang terjadi pada 20 Mei lalu merupakan akibat kendala teknis, bukan kelalaian institusi.
ODGJ pria berusia sekitar 50 tahun itu dibawa dari Puskesmas Bengalon ke kantor Dinsos pada siang hari. Namun saat Kadis kembali dari agenda luar sekitar pukul 16.30 WITA, ia mendapati bidang Rehabilitasi Sosial tak berada di tempat. “Saya langsung ambil tindakan. Ini manusia, bukan barang,” tegas Ernata, yang segera menghubungi Satpol PP untuk membawa pasien ke RSUD Kudungga.

Ernata menjelaskan, penanganan ODGJ melibatkan tiga instansi: Satpol PP (pengamanan), Dinas Kesehatan (tindakan medis), dan Dinas Sosial (penanganan sosial dan administratif). Untuk kasus ODGJ terlantar, Dinsos berperan dalam pencarian identitas, pengurusan BPJS, dan rujukan jika diperlukan.
“Kami sudah menangani ODGJ selama enam tahun tanpa masalah. Ini murni kelalaian individu, bukan sistem. Kabid terkait sudah dievaluasi dan menyampaikan permintaan maaf,” ujar Ernata, yang berlatar belakang pendidikan Pekerja Sosial hingga jenjang doktoral.
Staf Dinsos, Miluwati, menambahkan bahwa ODGJ sudah diberi obat penenang dan sempat menunggu keluarganya. Setelah dibujuk oleh Kadis, pasien akhirnya bersedia dibawa ke rumah sakit. Proses administrasi sempat terhambat karena tidak adanya identitas, namun Satpol PP berhasil menghubungi keluarga lewat media sosial.
Agus Budi, mantan kepala seksi Rehabilitasi Sosial, juga menegaskan pasien tidak dibiarkan terlantar. “Penanganan sudah berjalan sore harinya, termasuk pemberian makan dan minum. Berita yang muncul mungkin diambil sebelum proses itu berjalan.”
Ernata berharap insiden ini jadi pelajaran bersama dan mendorong pentingnya pejabat Dinsos memiliki jiwa sosial yang sabar dan empatik. “Kami apresiasi kritik yang membangun. Ini cambuk untuk meningkatkan pelayanan kami ke depan,” tutupnya.(*)







