Kutai TimurPemerintahan

‎Pengeluaran Rokok Masyarakat Kutim Lampaui Beras dan Sumber Protein

KUTAI TIMUR (Netizens.id) – Rokok masih menjadi salah satu beban konsumsi terbesar masyarakat di Kabupaten Kutai Timur, bahkan melebihi kebutuhan pangan pokok seperti beras dan sumber protein lainnya. Hal ini terungkap dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kutai Timur.

‎Dalam laporan tersebut, kelompok masyarakat dengan pengeluaran 40 persen terbawah mengalokasikan 8,40 persen dari total pengeluaran bulanannya untuk membeli rokok dan tembakau. Angka ini melampaui pengeluaran untuk kelompok padi-padian (termasuk beras) yang sebesar 8,12 persen. Sementara itu, pengeluaran untuk telur dan susu tercatat sebesar 2,75 persen, dan untuk daging sebesar 3,04 persen.

‎Jika dikonversi ke dalam nilai rupiah, rata-rata pengeluaran untuk rokok di kelompok ini mencapai Rp103.749 per kapita per bulan, sedangkan untuk beras hanya Rp100.343. Padahal, beras merupakan bahan pokok utama dalam pola konsumsi masyarakat.

‎“Misalkan rokok sebungkus Rp20 ribu, kalau sehari sebungkus, maka dalam seminggu bisa menghabiskan Rp140 ribu. Sementara untuk beras, malah kurang dari itu,” jelas Staf Tim Statistik BPS Kutim, Fatma Nur Aini, mewakili Ketua Tim Statistik BPS Kutim, Hendro Budiyono, saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa (29/7/2025).

‎Tidak hanya dari sisi nominal pengeluaran, konsumsi rokok secara fisik juga masih tinggi. Rata-rata penduduk usia 15 tahun ke atas di Kutai Timur mengisap 126,8 batang rokok per minggu, atau hampir 18 batang per hari. Bahkan, kelompok dengan pengeluaran menengah mencatat konsumsi tertinggi, yaitu 135,1 batang per minggu. Sementara itu, kelompok tertinggi mengisap 132,8 batang, dan kelompok pengeluaran terbawah sebanyak 114 batang per minggu.

‎BPS juga mencatat korelasi antara tingkat pendidikan dengan prevalensi merokok. Penduduk dengan tingkat pendidikan SD ke bawah memiliki prevalensi merokok sebesar 32,15 persen, sedangkan mereka yang berpendidikan SMP ke atas tercatat sebesar 28,09 persen.

‎“Nah, kalau dilihat dari pendidikan, ternyata yang tamat SD ke bawah justru lebih banyak merokok dibanding yang lulusan SMP ke atas,” kata Fatma.

‎Fenomena ini juga terjadi secara nasional. Namun, data dari Kutai Timur menunjukkan tingkat pengeluaran untuk rokok yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Sebagai perbandingan, garis kemiskinan nasional per Maret 2024 tercatat sebesar Rp582.932 per kapita per bulan, sedangkan di Kutim mencapai Rp753.000.

‎“BPS memang tidak menentukan siapa yang tergolong miskin secara nama dan alamat. Tapi dari survei terhadap 640 rumah tangga di seluruh kecamatan, kita bisa mendapatkan gambaran umum pola konsumsi dan pengeluaran masyarakat,” jelas Fatma.

‎Berdasarkan data tersebut, rata-rata total pengeluaran masyarakat Kutim mencapai Rp2.163.799 per kapita per bulan. Dari jumlah itu, sebesar Rp999.528 digunakan untuk konsumsi makanan, dan Rp1.164.271 untuk kebutuhan non-makanan.

‎Jika dilihat berdasarkan proporsi, kelompok 40 persen terbawah mengalokasikan 55,03 persen dari pengeluarannya untuk makanan, sedangkan kelompok 20 persen teratas hanya mengalokasikan 37,40 persen untuk makanan dan sisanya untuk non-makanan.

‎BPS menegaskan bahwa pihaknya hanya berperan dalam pendataan, bukan sebagai pelaksana kebijakan.

‎“Kami tidak punya wewenang untuk melakukan intervensi atau kampanye pengurangan rokok. Tugas kami hanya mencatat dan mengolah data dari hasil survei,” tegas Fatma.

‎Proses pengumpulan data dilakukan melalui Susenas, dengan melibatkan 64 blok sensus yang masing-masing terdiri dari 10 rumah tangga, sehingga totalnya mencapai 640 rumah tangga. Data yang dikumpulkan mencakup jenis dan jumlah konsumsi, pengeluaran rumah tangga, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.

‎Dibandingkan dengan tahun 2023, persentase pengeluaran untuk rokok di kelompok 40 persen terbawah mengalami kenaikan, dari 6,93 persen menjadi 8,40 persen. Namun, jumlah batang yang dikonsumsi menurun dari 125 batang menjadi 114 batang per minggu.

‎Menurut BPS, kenaikan pengeluaran ini dipengaruhi oleh kenaikan harga rokok serta kecenderungan konsumsi yang tetap tinggi di tengah tekanan ekonomi.

‎“Sekarang harga rokok bisa mencapai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per bungkus, naik dari tahun-tahun sebelumnya,” pungkas Fatma.(RH)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button