Mahasiswa di Pedalaman NTT Berjuang Hadapi Ujian Online di Tengah Keterbatasan Infrastruktur
NTT – Mahasiswa di Kota Komba dan Desa Gunung, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadapi kendala besar dalam menempuh pendidikan, terutama saat ujian online. Sulitnya akses internet dan buruknya kondisi infrastruktur jalan menjadi hambatan utama yang mengancam kualitas pendidikan mereka.
Jaringan internet yang lemah membuat mahasiswa harus berjuang lebih keras demi mengikuti ujian atau mengumpulkan tugas. Elisabeth, mahasiswa asal Desa Gunung, mengungkapkan, ia harus berjalan jauh hingga puluhan kilometer atau mendaki bukit hanya untuk mendapatkan sinyal internet.
“Kami harus pergi ke puncak bukit atau lokasi tertentu yang disebut memiliki sinyal lebih baik,” ujarnya.
Selain mahasiswa, para guru dan siswa juga merasakan dampak dari terbatasnya akses internet dan buruknya infrastruktur. Bahkan, pemadaman listrik dari PLN sering kali membuat jaringan internet hilang secara tiba-tiba, sehingga mahasiswa tidak bisa mengikuti ujian tepat waktu.
“Kalau sudah begitu, kami harus meminta pengertian dari dosen,” tambah Elisabeth, mahasiswa Prodi Teknik Informatika.
Permasalahan tak hanya pada jaringan internet, tetapi juga kondisi infrastruktur jalan yang buruk. Tidak adanya jembatan membuat akses menuju desa semakin sulit, terlebih saat musim hujan ketika sungai meluap. Hal ini semakin menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak.
“Kami ingin anak-anak di Desa Gunung mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, bagaimana mereka bisa belajar jika masalah internet dan infrastruktur pendukung belum terpenuhi” ungkap Elis, yang baru saja diwisuda.
Mahasiswa dan masyarakat berharap agar pemerintah daerah bersama penyedia layanan internet segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki kondisi ini. Penyediaan infrastruktur jaringan internet dan jalan di daerah pedalaman dinilai sebagai solusi mendesak untuk mendukung pengembangan SDM dan generasi muda di NTT
Beberapa mahasiswa juga meminta pihak Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STIKOM) UYELINDO Kupang untuk memberikan alternatif dalam pelaksanaan ujian online, seperti menyediakan fasilitas ujian offline atau memperpanjang waktu pengumpulan tugas.
“Kami ingin ujian online tetap bisa berjalan, tetapi butuh dukungan teknologi dan kebijakan yang memahami kondisi kami. Menuju kampus saja, kami memerlukan waktu tempuh sekitar 10 jam,” ujar Elisabeth.
Tantangan ini menggambarkan realitas pendidikan di wilayah pedalaman Indonesia yang membutuhkan perhatian lebih agar tidak tertinggal dalam era digitalisasi.
“Permasalahan ini harus segera diatasi. Pendidikan yang merata adalah hak setiap warga negara,” ujar Pajar Pahrudin, pengamat Kebijakan Publik usai melakukan uji kompetensi terhadap 25 mahasiswa STIKOM UYELINDO Kupang.
Para mahasiswa, guru, dan masyarakat Desa Gunung berharap agar pemerintah segera memperbaiki kondisi jalan, membangun jembatan, serta meningkatkan layanan internet. Dukungan ini sangat penting untuk memberikan kesempatan pendidikan yang layak bagi generasi muda di daerah pedalaman.(*/mn)







