Muhasabah Diri untuk Meraih Ridho Ilahi

Dr. Hartono
Sekertaris Majelis Ta’lim Al Ihsan dan Dosen STAIS Kutai Timur
MAJELIS ta’lim bukan sekadar ruang berkumpulnya jamaah untuk mendengarkan tausiyah, tetapi merupakan ikhtiar kolektif umat dalam merawat kesadaran spiritual dan memperkuat ikatan batin dengan Allah SWT. Hal inilah yang terasa begitu kuat dalam acara Majelis Ta’lim Al Ihsan yang kali ini diselenggarakan di Masjid Miftahul Jannah, Desa Sidomulyo. Dengan tema “Muhasabah Diri untuk Meraih Ridho Ilahi”, pengajian ini menjadi momentum penting bagi umat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, lalu menengok ke dalam diri: sejauh mana langkah hidup telah selaras dengan kehendak-Nya.
Acara pengajian dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Sidomulyo sekaligus Ketua Panitia, Bapak Ashari Setiawan, S.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa majelis ta’lim adalah pilar penting dalam menjaga ketentraman sosial dan spiritual masyarakat desa. Kehadiran majelis semacam ini bukan hanya memperkuat iman personal, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan, gotong royong, dan ukhuwah Islamiyah. Sambutan tersebut sekaligus mencerminkan sinergi yang baik antara pemerintah desa dan elemen keagamaan dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak.
Pengajian kali ini menghadirkan penceramah KH. Ahmad Ulil Absor dari Samarinda, sosok ulama yang dikenal dengan penyampaian dakwahnya yang menyejukkan dan membumi. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan muhasabah diri sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar amalan sesaat. Menurut beliau, ridho Allah tidak diraih hanya dengan banyaknya ritual lahiriah, tetapi dengan keikhlasan, kesungguhan memperbaiki diri, dan kesadaran akan kelemahan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Muhasabah, sebagaimana dijelaskan oleh KH. Ahmad Ulil Absor, adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Ia adalah proses menimbang amal, menilai niat, dan mengoreksi arah hidup. Di tengah zaman yang serba cepat dan kompetitif, manusia sering terlena pada pencapaian duniawi, lupa bahwa kehidupan sejati adalah perjalanan menuju akhirat. Karena itu, muhasabah menjadi cermin agar manusia tidak terperosok dalam kesombongan, lalai dari kewajiban, dan jauh dari nilai-nilai ketakwaan.
Suasana pengajian terasa sangat khidmat. Cuaca cerah sejak pagi seolah menjadi pertanda baik bagi terselenggaranya acara hingga akhir. Ribuan jamaah memadati area Masjid Miftahul Jannah dan sekitarnya. Diperkirakan sekitar 3.500 jamaah hadir, didominasi oleh ibu-ibu, bapak-bapak, serta anak-anak. Kehadiran lintas usia ini menunjukkan bahwa semangat menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah tidak mengenal batas umur. Justru dari sinilah nilai keberlanjutan dakwah dapat terjaga.
Ketertiban acara juga patut diapresiasi. Arus lalu lintas di sekitar lokasi pengajian diatur dengan baik oleh rekan-rekan Banser Wahau dan Kongbeng. Dengan sigap dan penuh tanggung jawab, mereka memastikan kenyamanan jamaah yang datang dan pulang. Kehadiran para pedagang yang turut meramaikan kegiatan juga memberikan warna tersendiri, menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan mampu menggerakkan denyut sosial dan ekonomi masyarakat secara bersamaan.
Tak kalah penting, kekompakan panitia tingkat Desa Sidomulyo menjadi salah satu kunci sukses terselenggaranya acara ini, tak lupa team kopi yg menyajikan kehangatan pada jamaah. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, terlihat jelas sinergi dan semangat kebersamaan yang terbangun. Setiap peran dijalankan dengan penuh tanggung jawab, mencerminkan nilai kerja kolektif yang sejalan dengan spirit Islam: saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Pesan utama dari pengajian ini adalah pentingnya kontinuitas. Muhasabah diri tidak boleh berhenti pada satu majelis, satu ceramah, atau satu momentum. Ia harus menjadi proses berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Majelis ta’lim pun diharapkan terus berlanjut sebagai ruang pembinaan ruhani, tempat umat menguatkan iman, memperbaiki akhlak, dan merawat harapan akan ridho Ilahi.
Pada akhirnya, Majelis Ta’lim Al Ihsan di Desa Sidomulyo bukan hanya sebuah kegiatan keagamaan rutin, melainkan ikhtiar nyata membangun peradaban dari akar rumput. Dari masjid, dari desa, dari majelis ilmu, cahaya keimanan terus dinyalakan. Semoga semangat muhasabah diri yang digaungkan dalam pengajian ini mampu tertanam kuat di hati jamaah, mengiringi langkah hidup menuju keberkahan, dan mengantarkan umat meraih ridho Allah SWT. Aamiin.







