Kebon Sayur Balikpapan, Pusat Pendidikan dan Pusat Kota Yang Tertinggalkan
Catatan: Muhammad Asran
(Pemerhati sejarah, tinggal di Balikpapan)
KOTA Balikpapan yang dikenal dengan Kota Minyak menyimpan sejuta kenangan, terutama di kawasan Kebon Sayur yang saat ini masuk wilayah kecamatan Balikpapan Barat. Siapa sangka kawasan Kebun Sayur menjadi pusat pendidikan di Balikpapan pada saat itu.
Di Kebon Sayur inilah Sekolah Tjina muncul. Ada Chung Hua Tedung Hui, yang kemudian tempatnya berubah menjadi Bank Exim dan sekarang menjadi Bank Mandiri Cabang Kebun Sayur. Di Kebon Sayur ini pula ada Sekolah Tehnik Negeri (STN), namun STN kemudian dipindah dan dibuatkan gedung baru di kawasan Gunung Pasir yang kemudian diberubah menjadi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 12. SMPN 3 dibangunkan di kawasan Strat 3, kemudian SMPN 4 dibangun juga di kawasan Sidodadi, Kelurahan Baru Tengah.
Dahulu hanya ada SMP I dan II di kawasan Gunung Pasir, sedangkan SMPN Berada di kawasan Kampung Baru 3, sekarang menjadi Gedung SD samping MTs Muara Rapak. Samping Jembatan Besi arah naik Gunung Polisi.
Kepala sekolah pertama SMPN 3 Maliangkay. Sebelum pindah di kebun Sayur tahun 1966. Sedangkan SMP Filialnya di SD O2. Di mulai awal THN 1965.
Karena ada peristiwa Jum’at 15 Oktober 1965, SMP Filial bubar. Dan baru kembali 1966 setelah menempati gedung sekolah Chung Hua Tseung Hui. Menjadi sekolah bersama. Yaitu SMP 3, SMP 4 dan STN.
Namun sehari setelah perayaan Cap Go Meh, pada hari Kamis, 22 Februari 1979, kawasan Kebon Sayur terbakar sekitar pukul 17.00 kawasan perdagangan kota Balikpapan di Kebun Sayur, juga sebagai kota Toea musnah dilalap si jago merah. Termasuk toko Nasional dan toko HongKong, luluh lantak. Akibat terbakar itulah Pusat Kota Kebun Sayur menjadi berpindah.
Dunia pendidikan pernah mengalami waktu tahun ajaran terpanjang sepanjang sejarah pendidikan di Indonesia. Sebelum tahun 1979 kenaikan kelas dilaksanakan pada bulan Desember.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, pada tahun ajaran 1978 menggeser tahun ajaran baru dari Januari menjadi Juli, Akibatnya, tahun ajaran 1978 diperpanjang hingga Juni 1979, menjadikannya tahun ajaran terpanjang dalam sejarah Indonesia, yaitu selama 1,5 tahun atau 18 bulan.(*)







