Opini

Jumat Berkah Ibu-Ibu Yasinan; Sebagai Jalan Pengabdian dan Pemberdayaan Ekonomi

Dr. Hartono & Mahasiswa/I KKL Kelompok 4
Dosen STAIS Kutai Timur

PANTAUAN kegiatan Jumat Berkah yang dilaksanakan oleh kelompok ibu-ibu yasinan di Desa Wanasari, Kecamatan Muara Wahau, telah menjadi contoh nyata bagaimana tradisi keagamaan dapat berkembang menjadi gerakan sosial dan ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Setiap Jumat pagi, sejak pukul 06.00 hingga pukul 07.00, kegiatan ini rutin dilakukan dengan penuh ketulusan.

Meskipun sederhana, kontribusinya tidak pernah dipandang sebelah mata. Justru dari kesederhanaan inilah lahir semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan pemberdayaan ekonomi yang patut diapresiasi.

Setiap pekan, ibu-ibu yasinan menyediakan sajian yang sangat terjangkau dengan harga hanya Rp5.000. Harga murah ini bukan sekadar simbol keterjangkauan, tetapi juga cara mereka mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Dengan harga tersebut, setiap orang bisa ikut berdonasi tanpa merasa terbebani. Lebih dari itu, hasil penjualan ini kemudian didonasikan untuk berbagai kebutuhan sosial seperti pondok pesantren, rumah duafa, warga yang kurang mampu, hingga masyarakat yang sedang sakit.

Semua tersalurkan berdasarkan kebutuhan yang muncul di lapangan, sehingga kegiatan ini menjadi wadah distribusi kebaikan yang efektif.

Mahasiswa KKN STAIS Kutai Timur yang turut mengamati kegiatan ini di Desa Wanasari menilai bahwa program Jumat Berkah ini bukan hanya sebuah rutinitas ibadah, tetapi juga menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi ummat. Melalui aktivitas ini, ibu-ibu mampu menggerakkan roda ekonomi mandiri dalam skala kecil, dengan model yang sederhana namun jelas dampaknya.

Mereka mengelola pembelian bahan, proses produksi, hingga distribusi dan pendanaannya secara gotong royong. Ini memberi pengalaman ekonomi mikro yang secara tidak langsung meningkatkan kemampuan manajemen kelompok dan kontribusi sosial mereka.

Selain aspek ekonomi, kegiatan ini juga membangun solidaritas sosial yang kuat. Dalam setiap pertemuan, diskusi ringan antar anggota menjadi cara untuk saling bertukar informasi, menyampaikan keluhan, dan memberikan dukungan moral.

Para ibu tidak hanya terlibat dalam pembacaan Surah Yasin, tetapi juga menjadikan forum ini sebagai ruang penguatan spiritual dan emosional. Hubungan antar anggota semakin erat, dan rasa memiliki satu sama lain tumbuh dengan sendirinya.

Dari sisi sosial-keagamaan, kegiatan ini memadukan nilai ibadah dan kepedulian dengan sangat harmonis. Yasinan menjadi pondasi spiritual yang memperkuat hati dan pikiran, sementara kegiatan Jumat Berkah menjadi manifestasi nyata dari ajaran sedekah, tolong-menolong, dan kepedulian sesama.

Inilah bentuk pengabdian yang tumbuh dari hati dan memberikan keteladanan nyata di tengah masyarakat. Banyak warga yang merasa terbantu, terutama mereka yang sedang sakit atau mengalami kesulitan ekonomi. Donasi yang diberikan tidak hanya meringankan beban, tetapi juga menjadi suntikan semangat bahwa mereka tidak berjalan sendiri.

Melihat dinamika serta pola ini, mahasiswa KKN STAIS Kutai Timur memandang bahwa kegiatan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas. Jika dikelola secara lebih sistematis, Jumat Berkah dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang bisa direplikasi di desa-desa lain.

Dengan pembukuan sederhana, manajemen relawan, serta inovasi produk, kegiatan ini dapat memberikan dampak yang lebih besar tanpa harus mengubah nilai-nilai dasarnya. Dari sudut pandang pembangunan masyarakat, kegiatan ini juga dapat menjadi ruang partisipasi aktif bagi perempuan desa.

Peran mereka dalam mengelola kegiatan bukan hanya menguatkan jaringan sosial, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri dan kapasitas mereka sebagai agen perubahan. Perempuan selama ini sering ditempatkan pada posisi domestik, namun melalui kegiatan ini mereka menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi motor penggerak kegiatan sosial dan ekonomi. Inilah bukti bahwa pemberdayaan perempuan dapat muncul dari ruang-ruang kecil, setempat, namun berkelanjutan.

Ke depan, sudah selayaknya kegiatan ini mendapatkan dukungan yang lebih terstruktur, baik dari pemerintah desa, lembaga pendidikan, maupun pihak-pihak yang peduli pada pemberdayaan masyarakat. Pemerintah desa dapat ikut memberikan fasilitas tambahan, seperti ruang pertemuan yang lebih nyaman atau dukungan berupa peralatan produksi yang dibutuhkan.

Dengan demikian, kegiatan yang telah berjalan secara swadaya ini dapat berkembang tanpa menghilangkan nilai kemandiriannya.

Mahasiswa KKN STAIS Kutai Timur pun menekankan pentingnya menjadikan Jumat Berkah ini sebagai momentum memperluas pengabdian sosial. Kolaborasi antara masyarakat dan lembaga pendidikan dapat membuka peluang untuk pelatihan manajemen keuangan sederhana, pengemasan produk yang lebih menarik, atau bahkan kegiatan penguatan spiritual yang lebih terstruktur.

Dengan sinergi ini, kegiatan yang awalnya hanya sebuah rutinitas keagamaan dapat berkembang menjadi program sosial yang memiliki dampak jangka panjang.

Harapan besar juga ditujukan kepada generasi muda desa. Dengan melihat peran ibu-ibu yasinan yang begitu besar, generasi muda diharapkan dapat meniru semangat kebersamaan dan kepedulian yang telah dicontohkan. Jika sejak sekarang mereka dilibatkan, maka kesinambungan kegiatan ini akan terjaga.

Keberlanjutan bukan hanya soal dana, tetapi juga soal regenerasi yang perlu disiapkan sejak dini.
Pada akhirnya, Jumat Berkah ibu-ibu yasinan adalah sebuah cerminan bahwa kebaikan tidak harus lahir dari kegiatan besar atau program resmi. Justru dari kegiatan yang sederhana, rutin, dan digerakkan dengan hati, lahir dampak yang mengalir luas dan menyentuh banyak orang.

Ia menjadi jalan pengabdian yang nyata pengabdian yang tidak dituntut, tidak dipamerkan, tetapi terus dilakukan dengan konsistensi dan keikhlasan. Jumat Berkah merupakan bukti bahwa masyarakat desa memiliki kekuatan gotong royong yang luar biasa.

Dengan modal kebersamaan dan niat baik, mereka mampu membantu sesama, membangun solidaritas, dan menciptakan pemberdayaan ekonomi tanpa menunggu program besar dari luar. Kegiatan ini perlu diapresiasi, dijaga, dan dikembangkan sebagai salah satu kekuatan sosial desa yang menjadi aset penting bagi pembangunan masyarakat di masa mendatang.

Dengan semangat pengabdian inilah, kegiatan Jumat Berkah ibu-ibu yasinan InsyaAllah akan terus hidup sebagai cahaya kebaikan di Desa Wanasari dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya. Semoga apa yang telah dirintis oleh para ibu ini dapat menjadi ladang pahala, perekat sosial, dan jalan keberkahan yang tidak putus dari generasi ke generasi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button