Ngaji dan Sholawat Bareng Gus Muhammad Ulinuha dari Magelang di Majelis Ta’lim Al-Ihsan

Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I
Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan & Dosen STAIS Kutai Timur
MAJELIS Ta’lim Al-Ihsan kembali menunjukkan eksistensinya sebagai ruang pembinaan ruhani dan keagamaan bagi masyarakat Muara Wahau dan sekitarnya. Agenda rutin pengajian bulanan yang selalu dilaksanakan pada minggu terakhir setiap bulan kembali digelar pada November 2025, dan kali ini terasa begitu istimewa.
Betapa tidak, pengajian yang dipusatkan di Masjid Desa Karya Bakti, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur tersebut menghadirkan penceramah kondang dari Magelang, Jawa Tengah, yakni Gus Muhammad Ulinuha. Sosok muda yang dikenal luas karena gaya penyampaiannya yang teduh, komunikatif, dan menyentuh hati ini berhasil membawa suasana majelis menjadi hidup, hangat, dan penuh keberkahan.
Kehadiran jamaah yang diperkirakan mencapai sekitar 3.000 orang menjadi bukti nyata besarnya antusiasme umat terhadap kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim Al-Ihsan. Tidak hanya jamaah dari Desa Karya Bakti, tetapi juga masyarakat dari desa-desa tetangga turut membanjiri masjid.
Bahkan, sebagian besar jamaah telah hadir sejak pagi hari untuk memastikan mendapatkan tempat terbaik agar dapat menyimak tausiyah secara langsung dari sang mubaligh. Pemandangan ini menegaskan bahwa pengajian bukan sekadar agenda bulanan, melainkan telah menjadi kebutuhan ruhani yang dirindukan oleh masyarakat.
Masjid Baiturrahman Desa Karya Bakti pagi-siang itu benar-benar berubah menjadi lautan manusia yang ngaji dan bershalawat bersama. Lantunan sholawat yang dikumandangkan sebelum tausiyah berlangsung membuat suasana semakin syahdu.
Para jamaah mengikuti sholawat dengan penuh kekhusyukan, sebagaimana yang menjadi ciri khas tradisi keagamaan masyarakat Nusantara. Ketika Gus Muhammad Ulinuha naik ke mimbar, sambutan hangat dan gemuruh sholawat menandai betapa besar penghormatan jamaah terhadap beliau.
Salah satu keistimewaan Gus Ulinuha adalah kemampuan beliau dalam menyampaikan materi secara komunikatif, interaktif, dan atraktif. Penyampaian yang penuh canda namun tetap sarat makna membuat jamaah tidak hanya mendengar, tetapi juga merasa terlibat langsung.
Dengan gaya ceramah yang dekat dengan keseharian masyarakat, rada roker, beliau mampu menghubungkan nilai-nilai Islam dengan realitas hidup, sehingga setiap nasihat yang disampaikan mudah diterima dan membekas di hati jamaah.
Dalam ceramahnya, Gus Muhammad Ulinuha menekankan satu pesan inti yang menjadi ruh pengajian malam itu, yaitu sikap tawadu’ atau rendah hati. Menurut beliau, tawadu’ merupakan akhlak yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang di mata Allah dan manusia.
Orang yang tawadu’ tidak merasa lebih baik dari orang lain, meskipun ia memiliki ilmu, jabatan, kekayaan, atau popularitas. Tawadu’ juga mengajarkan bahwa setiap manusia hanyalah hamba, dan semua kelebihan adalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
Beliau menjelaskan bahwa tawadu’ bukan berarti menghinakan diri, melainkan menempatkan diri secara tepat, bijaksana, dan proporsional. Tawadu’ adalah sikap jiwa yang melahirkan ketenangan, kerendahan hati, dan kemampuan menghargai orang lain.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali menonjolkan gengsi, kepentingan pribadi, dan budaya pamer, tawadu’ menjadi semakin penting untuk menjaga keharmonisan relasi sosial. Inilah nilai akhlak yang semestinya terus ditanamkan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Tidak jarang Gus Ulinuha menyelingi tausiyah dengan kisah-kisah ulama salaf yang terkenal tawadu’, sehingga pesan yang disampaikan terasa semakin hidup dan menggugah. Jamaah pun tampak menyimak dengan penuh perhatian.
Beberapa kali, gelak tawa pecah karena gaya penyampaian beliau yang segar dan humoris, namun setiap akhir cerita selalu menyimpan hikmah yang begitu mendalam. Inilah salah satu ciri khas ceramah beliau yang membuat jamaah betah berlama-lama di majelis ilmu.
Selain itu, Gus Ulinuha juga mengingatkan pentingnya menjaga kejernihan hati. Beliau menegaskan bahwa hati yang bersih akan melahirkan sikap tawadu’, sementara hati yang dipenuhi kesombongan hanya akan membawa seseorang pada kehancuran moral. Melalui majelis pengajian dan sholawat seperti ini, hati dilatih untuk senantiasa ingat kepada Allah, sehingga mampu mengikis sifat-sifat buruk seperti sombong, angkuh, dan merasa paling benar.
Dengan demikian, pengajian bukan hanya menjadi kegiatan rutinitas, tetapi sarana penyucian jiwa yang berkelanjutan. Acara pengajian pagi itu berlangsung hingga siang hari namun jamaah tetap bertahan mengikuti rangkaian kegiatan sampai selesai.
Hal ini menunjukkan bahwa pengajian Majelis Ta’lim Al-Ihsan bukan hanya sekadar acara seremonial, melainkan benar-benar memberikan kesan mendalam dan manfaat spiritual bagi masyarakat.
Kehadiran tokoh seperti Gus Muhammad Ulinuha tentu menjadi energi baru yang memperkuat tradisi keagamaan di wilayah Muara Wahau.
Menjelang akhir acara, panitia dan pengurus Majelis Ta’lim Al-Ihsan menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi atas suksesnya pelaksanaan pengajian ini. Mulai dari pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, panitia, donatur, hingga seluruh jamaah yang hadir dengan penuh semangat.
Kerja sama dan kebersamaan inilah yang membuat majelis ilmu semacam ini bisa terus bertahan dan memberikan manfaat bagi umat. Harapannya, pengajian bulanan ini dapat terus berjalan secara konsisten, menghadirkan para ulama, habaib, dan penceramah yang mampu menebar nilai-nilai kebaikan.
Semoga Majelis Ta’lim Al-Ihsan tetap menjadi pusat kajian keagamaan yang menyejukkan, memperkuat ukhuwah, dan menghidupkan tradisi sholawat serta pengajaran akhlak mulia. Dengan semangat tawadu’ yang menjadi pesan utama dalam pengajian kali ini, berharap masyarakat semakin terpanggil untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, pengajian dan sholawat bersama Gus Muhammad Ulinuha tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga ruang penyatu umat, penguat persaudaraan, dan pengingat akan pentingnya kerendahan hati. Semoga majelis-majelis seperti ini terus tumbuh dan memberikan cahaya bagi umat di Muara Wahau dan seluruh Kutai Timur.







