Opini

Penguatan Peran Generasi Alpha dalam Menghadapi Risiko Sosial, Ekonomi, dan Pernikahan Dini

Dr. Hartono & Mahasiswa/i Kelompok 9 KKL STAIS Kutai Timur

GENERASI Alpha merupakan generasi yang lahir setelah tahun 2010 dan tumbuh di tengah arus digitalisasi yang masif, perubahan sosial yang cepat, serta tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Mereka adalah generasi yang akrab dengan teknologi sejak usia dini, namun di sisi lain menghadapi risiko sosial yang tidak ringan. Salah satu persoalan yang masih mengemuka dan membutuhkan perhatian serius adalah praktik pernikahan dini, yang kerap berkelindan dengan persoalan ekonomi keluarga, rendahnya literasi pendidikan, serta minimnya pendampingan sosial terhadap anak dan remaja.

Di banyak wilayah, termasuk daerah pedesaan, pernikahan dini masih sering dipersepsikan sebagai solusi atas persoalan ekonomi atau kekhawatiran orang tua terhadap pergaulan anak. Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa pernikahan di usia anak justru melahirkan persoalan baru yang lebih kompleks, mulai dari putus sekolah, ketergantungan ekonomi, rendahnya kualitas kesehatan ibu dan anak, hingga meningkatnya risiko konflik rumah tangga. Dalam konteks inilah, penguatan peran Generasi Alpha menjadi agenda penting yang tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga sekolah, masyarakat, dan institusi pendidikan tinggi.

Upaya penguatan tersebut tercermin dalam kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan dalam dua sesi di SMP Negeri 3 Kongbeng, Desa Sidomulyo. Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan/Kuliah Kerja Nyata (KKL/KKN) STAIS Kutai Timur Kelompok 9 sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus respons akademik terhadap persoalan sosial yang nyata di lingkungan sekitar. Tema yang diangkat, yakni penguatan peran Generasi Alpha dalam menghadapi risiko sosial, ekonomi, dan pernikahan dini, menunjukkan kepekaan mahasiswa terhadap isu-isu strategis yang dihadapi remaja usia sekolah.

Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari kalangan dosen STAIS Kutai Timur sekaligus penggiat sosial dan masyarakat, Dr. Hartono, yang memiliki pengalaman panjang dalam isu pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pendampingan generasi muda. Kehadiran narasumber dengan latar belakang akademik dan praktis sosial memberikan perspektif yang utuh, tidak hanya menjelaskan konsep secara teoritis, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas kehidupan siswa sehari-hari. Hal ini penting agar materi yang disampaikan tidak bersifat abstrak, melainkan kontekstual dan relevan.

Peserta kegiatan melibatkan seluruh kelas yang ada di SMP Negeri 3 Kongbeng, didampingi oleh dewan guru serta Kepala Sekolah. Partisipasi penuh ini mencerminkan adanya dukungan institusional dari pihak sekolah terhadap upaya pencegahan pernikahan dini dan penguatan karakter peserta didik. Sekolah tidak lagi diposisikan semata sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi sebagai ruang pembentukan kesadaran, nilai, dan sikap hidup yang bertanggung jawab.

Sosialisasi berlangsung dalam suasana yang hidup, interaktif, dan penuh semangat. Metode penyampaian materi dirancang dialogis, diselingi dengan tanya jawab, diskusi ringan, serta contoh-contoh kasus yang dekat dengan kehidupan remaja. Siswa didorong untuk berani mengemukakan pendapat, bertanya, dan merefleksikan cita-cita mereka ke depan. Pemberian doorprize dan ice breaking di sela-sela kegiatan menjadi strategi sederhana namun efektif untuk menjaga antusiasme peserta, sehingga proses edukasi berjalan menyenangkan tanpa kehilangan substansi.

Dalam pemaparannya, para pemateri menegaskan bahwa pernikahan dini bukanlah jalan keluar dari persoalan sosial maupun ekonomi. Justru sebaliknya, pernikahan di usia anak sering kali mempersempit ruang gerak generasi muda untuk berkembang. Anak-anak yang menikah dini berisiko kehilangan hak atas pendidikan, terjebak dalam lingkaran kemiskinan, dan belum memiliki kesiapan mental maupun ekonomi untuk membangun keluarga yang sehat. Pesan ini disampaikan secara persuasif, tanpa menghakimi, sehingga mudah diterima oleh peserta didik.

Selain isu pernikahan dini, materi juga menyoroti berbagai risiko sosial lain yang dihadapi Generasi Alpha, seperti pengaruh negatif media sosial, pergaulan bebas, serta rendahnya literasi digital. Generasi ini tidak mungkin dipisahkan dari teknologi, namun perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak, kritis, dan produktif. Literasi digital menjadi kunci agar mereka tidak mudah terpapar konten negatif, hoaks, maupun pola hidup instan yang menyesatkan.

Dari sisi ekonomi, siswa diajak memahami pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Pendidikan bukan sekadar kewajiban formal, tetapi sarana untuk membangun kemandirian, memperluas peluang kerja, dan meningkatkan kualitas hidup. Kesadaran ini menjadi fondasi agar Generasi Alpha memiliki orientasi masa depan yang jelas dan tidak mudah terjebak pada pilihan-pilihan instan yang merugikan diri sendiri.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pendampingan terhadap Generasi Alpha tidak bisa bersifat sporadis atau seremonial. Diperlukan upaya yang berkelanjutan dan konsisten. Ke depan, kegiatan serupa perlu dilakukan secara kontinu, melibatkan kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan elemen masyarakat lainnya. Generasi Alpha membutuhkan ruang aman untuk belajar, berdialog, dan mendapatkan pendampingan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Pada akhirnya, penguatan peran Generasi Alpha adalah investasi sosial jangka panjang. Apa yang ditanamkan hari ini akan menentukan kualitas masyarakat di masa depan. Inisiatif mahasiswa KKL/KKN STAIS Kutai Timur Kelompok 9 di Desa Sidomulyo patut diapresiasi dan didorong agar terus berlanjut. Dengan pendampingan yang tepat, Generasi Alpha tidak hanya mampu terhindar dari berbagai risiko sosial, ekonomi, dan pernikahan dini, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang berdaya, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button