Opini

Menjaga Maruah Pers di Era Digital

Catatan Rusdiansyah Aras *)

DUNIA kewartawanan hari ini tidak lagi sekadar tentang “siapa yang paling cepat”, tetapi “siapa yang paling benar”. Di Kalimantan Timur, kita menyaksikan ledakan informasi yang luar biasa. Media sosial bukan lagi sekadar pelengkap; ia telah menjadi panggung utama informasi. Namun, di tengah riuh rendahnya media sosial, PWI Kaltim harus tetap menjadi jangkar kebenaran.

1. Konvergensi: Adaptasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Konvergensi media bukan sekadar perpindahan platform dari cetak ke digital. Ini adalah perubahan pola pikir. Wartawan di Kaltim dituntut untuk serba bisa—menulis, mengambil video, sekaligus mengelola interaksi di media sosial.

Namun, kecepatan distribusi di era konvergensi tidak boleh mengorbankan akurasi. PWI Kaltim berkomitmen untuk:

Mendorong transformasi digital bagi seluruh anggota tanpa meninggalkan kaidah jurnalistik.

Memastikan media siber di daerah memiliki standar kualitas yang setara dengan media nasional.

Mengedukasi publik agar bisa membedakan antara produk jurnalistik dan sekadar konten media sosial.

2. Peran Vital Dewan Kehormatan (DK)

Dewan Kehormatan bukan sekadar pelengkap struktur organisasi. Di era saat batas antara opini pribadi dan berita sering kabur di media sosial, peran DK menjadi sangat krusial sebagai:

Benteng Etika: Menjaga agar wartawan PWI Kaltim tetap patuh pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ), meski sedang bermanuver di media sosial.

Filter Profesionalisme: Memastikan bahwa status wartawan tidak disalahgunakan untuk kepentinganpragmatis yang mencederai martabat profesi.

Ruang Refleksi: Menjadi tempat berkonsultasi bagi wartawan muda agar tetap berada di rel yang benar dalam menghadapi dinamika lapangan yang semakin kompleks.

3. Menghadapi “Tsunami” Media Sosial di Kaltim

Menjamurnya akun informasi di media sosial di Kalimantan Timur adalah tantangan sekaligus peluang. Banyak “wartawan dadakan” muncul hanya dengan modal kamera ponsel. Di sinilah PWI harus hadir.

“Media sosial bisa menyebarkan informasi dalam hitungan detik, tetapi integritas adalah hasil dari verifikasi yang berulang-ulang. Wartawan PWI harus menjadi verifikator di tengah simpang siur hoaks.”

Kami memandang media sosial sebagai alat, bukan musuh. Namun, anggota PWI Kaltim wajib membedakan diri mereka melalui kedalaman data, keberimbangan narasumber, dan ketaatan pada hukum pers.

Kesimpulan: Soliditas dan Integritas

Arah PWI Kaltim ke depan adalah menciptakan ekosistem pers yang sehat di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya. Bersama Dewan Kehormatan, kita ingin memastikan bahwa menjadi wartawan PWI adalah jaminan profesionalisme. Kita boleh berganti platform, kita boleh menggunakan media sosial, tetapi marwah pers tidak boleh ditawar.

Mari kita jadikan PWI Kaltim sebagai rumah yang teduh bagi wartawan profesional dan benteng yang kokoh bagi kemerdekaan pers yang bertanggung jawab.(*)

*) penulis adalah Anggota Dewan Kehormatan PWI Kaltim periode 2024-2029

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button