Produksi Beras Lokal Baru Penuhi 30 Persen Kebutuhan Masyarakat Kutim
KUTAI TIMUR – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok. Produksi beras lokal baru mampu mencukupi sekitar 30 persen konsumsi masyarakat, sehingga 70 persen sisanya harus didatangkan dari daerah lain.
Kepala Dinas KetahAdd MediaInsert popupanan Pangan (Diskepang) Kutim, Dyah Ratna Ningrum, mengatakan kondisi serupa terjadi pada komoditas lain seperti daging sapi dan telur yang sebagian besar masih berasal dari luar daerah. Beras yang beredar di Kutim umumnya didatangkan dari Sulawesi dan Jawa.
“Beras saja, kita baru bisa memenuhi kebutuhan 30 persen. Artinya 70 persen dari luar,” ujarnya.
Dyah menjelaskan, ketahanan pangan tidak sama dengan swasembada. Menurutnya, tugas utama dinasnya adalah memastikan pangan tersedia, baik dari produksi daerah sendiri maupun dari luar daerah. “Yang penting tersedia, tidak harus swasembada,” katanya.
Untuk mencapai swasembada beras, Kutim membutuhkan minimal 10.000 hektare sawah. Luas sawah yang ada saat ini baru sekitar 2.638 hektare. Karena itu, perluasan lahan atau ekstensifikasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Dari sisi intensifikasi, Dyah menilai capaian Kutim sudah baik. Produktivitas padi di wilayah dengan jaringan irigasi teknis mencapai 6,4 ton per hektare, lebih tinggi dibanding daerah lain yang menurutnya masih sekitar 4 ton per hektare. Ia mencontohkan kunjungan ke Sidrap yang produktivitasnya sekitar 4 ton.
Perluasan lahan sawah, kata Dyah, tidak mudah. Mencari 1.000 hektare lahan yang berstatus clean and clear saja sulit. Program cetak sawah yang pernah berjalan memperoleh lebih dari 1.000 hektare lahan, tetapi yang benar-benar ditanami hanya sebagian. Kendalanya antara lain tenaga kerja yang mahal, status lahan, serta kesesuaian dengan tata ruang.
Ia menambahkan, harga beras lokal juga sulit bersaing dengan beras dari luar daerah karena biaya tenaga kerja di Kutim tinggi. Untuk meminimalkan ketergantungan, Diskepang mendorong program ketahanan pangan keluarga, agar setiap rumah tangga minimal mampu memenuhi kebutuhan telur dan sayur untuk dirinya sendiri.
“Kami mendorong program ketahanan pangan keluarga sebagai salah satu program untuk meminimalisir ketergantungan pasokan dari luar,” katanya. (Adv-kominfo/Q)







